Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Pasar Saham Aja Cetak Rekor,' Trump Sebut Hanya Orang Bodoh yang Tak Suka Kesepakatan Amerika-Iran

'Pasar Saham Aja Cetak Rekor,' Trump Sebut Hanya Orang Bodoh yang Tak Suka Kesepakatan Amerika-Iran Kredit Foto: The Independent
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan respons keras terhadap gelombang kritik yang muncul setelah tercapainya nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

Trump bahkan menyebut pihak-pihak yang menolak kesepakatan tersebut sebagai orang yang iri, jahat, atau bodoh.

Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel

"Orang-orang bodoh ini, yang mengira saya belum cukup keras terhadap Iran, padahal pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan harga minyak merosot," tulis Trump melalui media sosial Truth Social, dikutip Jumat (19/6/2026).

"Mereka iri, orang jahat, atau bodoh," tambahnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah kritik dari sejumlah pembuat kebijakan dan pengamat di AS yang mempertanyakan isi kesepakatan dengan Iran. Sejumlah pihak menilai perjanjian tersebut terlalu menguntungkan Teheran dan belum memberikan jaminan penghentian program nuklir Iran secara permanen.

Namun, Trump justru menilai kesepakatan itu sebagai kemenangan diplomatik yang telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian global.

Ia menunjuk lonjakan indeks pasar saham AS yang menembus rekor tertinggi serta merosotnya harga minyak dunia sebagai bukti bahwa pasar merespons positif tercapainya perdamaian dengan Iran.

Kesepakatan tersebut memang dirancang untuk mengakhiri perang di Timur Tengah yang sempat mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran terhadap perekonomian dunia.

Dalam kerangka perjanjian itu, Iran dilaporkan bersedia memangkas volume penyimpanan uranium yang diperkaya miliknya. Sebagai imbalannya, Teheran akan memperoleh paket pemulihan ekonomi dalam skala besar dan pelonggaran berbagai pembatasan ekonomi.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei sebelumnya menyatakan bahwa dokumen kerja sama tersebut telah rampung dan sudah ditandatangani secara resmi oleh presiden kedua negara.

Berdasarkan isi memorandum yang beredar, Washington juga berkomitmen mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran dan membuka jalan bagi pencairan dana rekonstruksi senilai US$300 miliar yang didukung negara-negara kawasan setelah kesepakatan akhir terkait program nuklir tercapai.

Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dan Wakil Presiden AS, JD Vance dalam upacara di Swiss.

Meski Iran menyatakan penandatanganan tatap muka tidak lagi diperlukan, Pakistan memastikan pertemuan resmi tetap akan digelar pada Jumat, bersamaan dengan dimulainya pembicaraan teknis tahap berikutnya.

Baca Juga: Gegara Ulah Amerika, Iran Menjadi Tim Paling Tertindas di Piala Dunia 2026

Bagi Trump, reaksi positif pasar menjadi bukti bahwa kesepakatan dengan Iran bukanlah kelemahan diplomatik, melainkan langkah yang menghindarkan dunia dari risiko gejolak ekonomi dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar