Pengusaha China Banjiri Indonesia dengan Rp38,8 Triliun, Ternyata Ini Alasan Mengejutkannya!
Kredit Foto: CDI Group
Gelombang investasi China ke Indonesia ternyata bukan sekadar strategi ekspansi biasa. Realisasi investasi China pada Kuartal I-2026 mencapai Rp38,8 triliun, menyasar berbagai sektor mulai dari manufaktur, ruang logistik, hingga jaringan bisnis kuliner ritel skala makro.
CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono mengungkap fakta mengejutkan di balik derasnya arus modal tersebut. Indonesia kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan target utama penyelamatan kapital bagi pengusaha China yang margin keuntungannya menyusut drastis di negara sendiri.
"Saya baru pulang dari Shanghai, ternyata di China ekonominya juga melambat. Jadi orang bilang, perusahaan China lagi heboh. Bukan, karena mereka sudah tidak bisa lagi berbisnis di negaranya. Dan mereka melihat bahwa di Indonesia, margin yang mereka bisa dapat masih dua digit," ungkap Hendra di Jakarta, Kamis (19/6/2026).
Bandingkan dengan kondisi di China, di mana pengusaha sudah bersyukur jika meraih margin keuntungan 2-3 persen saja. Selisih margin yang jauh inilah yang membuat Indonesia menjadi magnet investasi baru.
Selain kejenuhan pasar domestik, diferensiasi suku bunga pinjaman internasional turut memberi keuntungan kompetitif besar bagi investor China. Mereka masuk ke Indonesia dengan modal eksternal berbunga rendah dari lembaga keuangan internasional maupun bank domestik China.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pelaku usaha lokal yang harus menanggung beban suku bunga perbankan nasional yang jauh lebih tinggi. Ketimpangan ini menciptakan keuntungan kompetitif yang sulit ditandingi pengusaha dalam negeri.
"Kalau kami melihatnya, yang masih berani beli lahan itu adalah developer gudang atau pabrik siap pakai. Mereka yang tetap terus cari lahan. Karena beberapa perusahaan China yang datang ke sini dan perlu fasilitas langsung siap, itu memang hanya bisa lari ke developer-developer yang sudah siap dengan fasilitas," papar Hendra.
Di balik manfaat penyerapan tenaga kerja dan aktivitas logistik regional, derasnya arus modal asing ini menyimpan ancaman tersembunyi. Hendra mengingatkan dampak serius jika regulasi kendali pasar tidak ditegakkan ketat oleh kementerian teknis.
"Dampaknya apa bagi perusahaan domestik? Banting harga, akibatnya perusahaan lokal susah bertahan. Karena di sini kan bunga tinggi. Mereka kan bawa uang dari luar negeri, bunganya rendah, mereka lebih berani untuk masuk ke Indonesia," cetus Hendra.
Baca Juga: BPDP dan ASPEKPIR Lepas Ekspor Perdana 28 Ton Lidi Sawit ke China
Hendra menegaskan pentingnya langkah pengetatan demi menjaga struktur industri nasional tetap kokoh. Tanpa itu, ketergantungan modal asing dikhawatirkan mengancam kemandirian bisnis dalam negeri.
"Langkah pengetatan ini penting agar struktur industri nasional tetap kokoh terhadap risiko ketergantungan modal luar dan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dinamis serta mandiri secara bisnis," pungkas Hendra.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: