Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Sejumlah tokoh politik menyoroti posisi politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) yang dinilai sebagian pihak masih belum tegas, atau disebut “abu-abu”. Sorotan itu muncul di tengah perdebatan publik soal sikap PDIP apakah berada di dalam pemerintahan atau memilih menjadi oposisi.
Ketua Fraksi PKB DPR RI Jazilul Fawaid berharap PDIP segera menentukan sikap politik yang jelas. Ia menilai, posisi partai politik semestinya tidak berada di area yang tidak tegas antara koalisi dan oposisi.
“Kalau memang ingin berada di luar pemerintahan, silakan. Tetapi jangan bersikap abu-abu. Itu yang saya maksud,” kata Jazilul di kompleks parlemen, Jakarta, Kamis (18/6).
Pernyataan tersebut juga dikaitkan dengan dinamika politik terakhir, termasuk munculnya isu keterlibatan salah satu kader PDIP dalam aksi demonstrasi bersama mahasiswa di Jakarta. Menurut Jazilul, hal itu semakin memperkuat kebutuhan agar PDIP memperjelas posisinya dalam peta politik nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menanggapi situasi tersebut dengan lebih menekankan pentingnya stabilitas politik dan fokus pada agenda nasional. Ia menilai dinamika antarpartai merupakan hal yang wajar dalam sistem demokrasi.
Menurut AHY, setiap partai memiliki kepentingan dan posisi politik masing-masing, baik saat berada di pemerintahan maupun ketika berada di luar pemerintahan. Namun, ia menekankan bahwa kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama.
“Fokus kita adalah ekonomi. Kita ingin memastikan pertumbuhan ekonomi terjaga, daya beli masyarakat terjaga, lapangan pekerjaan terbuka, kemiskinan bisa diturunkan, dan ketimpangan dapat ditekan,” ujar AHY seusai rapat di kompleks parlemen, Senin.
Ia juga menambahkan bahwa partai yang berada di pemerintahan memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, sementara partai di luar pemerintahan berperan memberikan kritik yang konstruktif tanpa memperkeruh situasi politik.
Di sisi lain, Ketua DPP PDIP Said Abdullah menegaskan bahwa partainya memiliki posisi sebagai “penyeimbang”, bukan abu-abu sebagaimana disebut sebagian pihak.
Ia menyebut, sikap tersebut merupakan hasil keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDIP. Dalam posisi sebagai penyeimbang, PDIP mengklaim tetap bersikap objektif dan proporsional terhadap kebijakan pemerintah.
“Kita tidak bisa membandingkan dengan negara negara barat yang menjalankan sistem oposisi,” ujar Said.
Baca Juga: Anggota DPR Fraksi PDIP Tantang KPK Berani Geledah Pejabat Setelah Kantor Imigrasi Denpasar
Menurutnya, PDIP tetap bisa memberikan dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai baik untuk rakyat, meski tidak selalu berada dalam lingkaran kekuasaan. Bahkan, ia menyebut dukungan itu tetap diberikan tanpa mempertimbangkan keuntungan elektoral bagi partai.
Perbedaan pandangan antar tokoh politik ini memperlihatkan masih cairnya perdebatan mengenai posisi PDIP dalam lanskap politik nasional, apakah benar berada di wilayah “abu-abu” atau sudah memiliki format politik yang lebih jelas sebagai penyeimbang pemerintahan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat