Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cerita Karyawan IMIP Temukan Titik Balik Karier di Tiongkok

Cerita Karyawan IMIP Temukan Titik Balik Karier di Tiongkok Kredit Foto: IMIP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah perusahaan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bersama Eternal Tsingshan Indonesia memberi kesempatan bagi karyawannya untuk terus belajar meningkatkan sumber daya dan kompetensi kerja. Mereka mendapat peluang belajar langsung di Tiongkok, baik melalui program pendidikan formal maupun pelatihan bahasa dan budaya kerja industri. 

Bagi banyak peserta, pengalaman ini tak sekadar kesempatan belajar di luar negeri, melainkan titik balik mengubah cara pandang mereka terhadap pekerjaan dan membuka peluang pengembangan karier yang lebih luas.

Manajemen IMIP menyadari, perkembangan industri pengolahan semakin kompleks dan global, sehingga kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang kompeten juga menjadi semakin penting. Teknologi yang terus berevolusi, sistem produksi semakinterintegrasi, dan kolaborasi lintas budaya kini menjadi bagian dari keseharian industrimodern. Sehingga dipandang penting, investasi pengembangan SDM tidak lagi cukupdilakukan melalui pelatihan lokal saja.

Salah satu karyawan yang mendapat kesempatan belajar ke Tiongkok adalah Dhimas Mahardhika (29), Wakil Supervisor Departemen Ferronickel PT Walsin Nickel Industrial Indonesia (WNII). Alumni Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu direkomendasikan untuk mengikuti program S2 Manajemen Applied Economics di Wenzhou University, Provinsi Zhejiang, Tiongkok.

Penunjukan tersebut sesuai kinerja dan potensi pengembangan kompetensi manajerialnya. Dhimas dipilih karena perusahaan membutuhkan peningkatan dalam koordinasi dan tata kelola manajemen, mengingat selama ini masih terdapat miskomunikasi antardepartemen.

Program yang diikuti Dhimas berlangsung sejak September 2024 hingga Januari 2026 untuk fase pembelajaran langsung di Tiongkok. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan tesis dan kuliah daring hingga 2027 mendatang. Selama berada di Wenzhou University, ia tidak hanya mempelajari teori manajemen, tetapi juga mendapatkan pengalaman berinteraksi dalam lingkungan internasional yang sangat beragam.

"Salah satu pembelajaran paling berkesan adalah cross-culture management. Mahasiswa dari berbagai negara diminta membentuk perusahaan simulasi, menyusun struktur organisasi, membagi tugas, dan menyelesaikan persoalan bisnis bersama. Pengalaman ini sangat relevan dengan kondisi kerja di IMIP yang mempertemukan tenaga kerja dari berbagai latar belakang budaya," ungkap Dhimas.

Ia juga mengamati budaya kerja Tiongkok yang sangat disiplin dan terstruktur, dengan perencanaan rinci, target jelas, dan komitmen serta konsistensi pada waktu. Sekembalinya ke kawasan industri terintegrasi berbasis nikel tersebut, Dhimas menerapkan pembelajaran yang diperoleh dalam pekerjaan sehari-hari, terutama memperkuat koordinasi tim dan membangun pemahaman terhadap perbedaanbudaya kerja.

Ia membagikan pandangan kepada rekannya dan berupaya menyerasikan perbedaan budaya kerja dengan menerapkan standar yang baik serta produktif, sejalan dengan program Bintang Lima dalam konsep 5R (ringkas, resik, rapi, rajin, dan rawat).

"Ada beberapa tanggung jawab baru, mulai dari mengelola koordinasi tim di Divisi Rotary Kiln, mengikuti program pembinaan asisten manajer, bertanggung jawab atas Program SCORE di Departemen Ferronickel, dan menyelesaikan tesis S2. Positifnya lagi, ada insentif tambahan dari ujian level bahasa Mandarin yang diikuti," kata Dhimas.

Kisah lain datang dari Wahyu, karyawan PT WNII yang mengikuti program pelatihan bahasa Mandarin di Tiongkok. Bagi Wahyu, kemampuan berbahasa bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan jembatan komunikasi yang sangat penting dalam lingkungan industri yang melibatkan tenaga kerja dan manajemen asal Tiongkok.

Setelah menyelesaikan program pelatihan, tanggung jawab Wahyu berkembang signifikan. Selain menjalankan tugas di Divisi Rotary Kiln, ia mulai dipercaya membantu komunikasi antara tenaga kerja Indonesia dan Tiongkok, termasuk menerjemahkan dokumen serta percakapan dalam rapat.

"Peran ini membuat saya lebih sering terlibat dalam koordinasi operasional dan memperoleh kepercayaan lebih besar dari manajemen. Dan positifnya juga, ada tunjangan sekitar 20-30 persen dari gaji atas tugas tambahan sebagai penerjemah," urai Wahyu.

Di balik program keberangkatan para peserta, terdapat sistem pengembangan kompetensi yang dikelola Eternal Tsingshan Indonesia melalui Departemen HRD. Seleksi peserta dilakukan berdasarkan kebutuhan perusahaan, kemampuan bahasa Mandarin, rekomendasi atasan, dan evaluasi kompetensi. Program ini memberikan dampak signifikan bagi pengembangan SDM di IMIP.

Tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi sehari-hari, tetapi juga memperkuat penguasaan kosakata profesional, koordinasi lintas budaya, dan kemampuan teknis. Banyak lulusan program kini dipercaya menjadi interpreter, koordinator komunikasi, atau memegang tanggung jawab lebih besar dalam organisasi.

Baca Juga: Adopsi Model IMIP Morowali, Zimbabwe Jajaki Kerja Sama Hilirisasi dan Investasi

Baca Juga: Pandangan Para Pakar Indonesia Terkait Surat Kadin Tiongkok ke Presiden RI

"Program ini mendukung pengembangan SDM lokal untuk menempati posisi-posisi strategis dan manajerial di masa depan," kata Assistant Supervisor HRD Eternal Tsingshan Indonesia, Brillian Faisal, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin(22/06/2026).

Pengalaman Dhimas dan Wahyu menunjukkan bahwa investasi terbesar dalam industri bukan hanya pembangunan fasilitas produksi atau penguasaan teknologi, melainkan juga pembangunan manusia.

Transfer pengetahuan dari Wenzhou hingga Morowali tidak hanya memperkuat kompetensi individu, tetapi juga mempersiapkan talenta Indonesia agar mampu bersaing dan berkontribusi dalam industri global yang terus berkembang.

Program pengembangan kompetensi internasional akan semakin diperkuat melalui kombinasi pelatihan di IMIP dan pembelajaran di Tiongkok dengan fokus pada bahasa Mandarin, kompetensi profesional, kepemimpinan, dan komunikasi lintas budaya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra