Hampir Separuh Investasi Asuransi Masuk SBN, OJK Sebut Demi Jaga Stabilitas
Kredit Foto: (Istimewa)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total investasi industri asuransi komersial mencapai Rp977,81 triliun per Mei 2026. Di tengah volatilitas pasar keuangan dan ketidakpastian ekonomi global, perusahaan asuransi masih memilih Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen investasi utama untuk menjaga stabilitas portofolio dan memenuhi kewajiban jangka panjang kepada pemegang polis.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (KE PPDP) OJK Ogi Prastomiyono mengatakan penempatan dana pada SBN mencapai Rp317,66 triliun atau sekitar 42,94% dari total investasi industri asuransi komersial yang mencakup perusahaan asuransi jiwa, asuransi umum, dan reasuransi.
"Instrumen SBN dinilai memiliki tingkat risiko yang relatif lebih rendah, likuiditas yang baik, serta mampu mendukung pengelolaan kewajiban jangka panjang perusahaan asuransi," ujar Ogi dalam lembar jawaban tertulis, Senin (3/8/2026).
Menurut Ogi, komposisi investasi tersebut mencerminkan strategi pengelolaan aset yang mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent) di tengah kondisi pasar yang masih berfluktuasi. Karakteristik SBN yang relatif aman dan likuid dinilai sesuai dengan kebutuhan industri asuransi yang memiliki kewajiban jangka panjang kepada para pemegang polis.
Selain ditempatkan pada SBN, portofolio investasi industri juga dialokasikan ke berbagai instrumen pasar modal. OJK mencatat investasi pada saham mencapai 15,13% dari total portofolio, sedangkan reksa dana menyumbang 13,46%.
Sementara itu, hasil investasi yang dibukukan industri asuransi komersial hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp5,51 triliun.
Baca Juga: OJK Jelaskan Penyebab Defisit Rp2,31 Triliun pada 2025
Baca Juga: OJK Perkuat Peran di Sumatera Utara, Triyoga Laksito Resmi Jabat Kepala OJK Daerah
Baca Juga: OJK: SBN Tetap Dominasi Investasi Dana Pensiun Meski BI Rate Naik
OJK menilai strategi investasi yang konservatif menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan keuangan perusahaan asuransi, terutama di tengah dinamika pasar global yang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi dan volatilitas aset keuangan.
Dengan dominasi investasi pada instrumen berisiko rendah seperti SBN, industri diharapkan tetap memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim dan manfaat polis kepada nasabah, sekaligus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara keseluruhan.
Komposisi investasi tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan asuransi masih mengutamakan keseimbangan antara keamanan aset, likuiditas, dan potensi imbal hasil dalam mengelola dana yang dipercayakan oleh masyarakat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: