Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Indonesia didorong untuk memanfaatkan gejolak geopolitik global sebagai momentum untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat diversifikasi rantai pasok.
Vice President Asia Pacific di World Trade Centers Association, Scott Wang, menilai perubahan kondisi perdagangan global akibat kebijakan tarif dan konflik internasional memang memaksa banyak negara maupun pelaku usaha melakukan penyesuaian strategi.
“Dari sisi perdagangan mungkin isu tarif itu yang akhirnya banyak mengubah dan bikin agar negara harus adjust, bisnis pun harus adjust. Memang ini adalah momen yang lumayan challenging, walaupun begitu saya percaya opportunities itu masih ada,” ujarnya di Jakarta, Selasa (23/6/2026)
Menurut Scott, Indonesia dapat memanfaatkan kekosongan pasokan yang muncul akibat terganggunya rantai pasok global. Sejumlah komoditas yang sebelumnya dipasok dari negara-negara yang terdampak konflik berpotensi digantikan oleh produk asal Indonesia.
“Karena ada supply chain yang berantakan gara-gara perang itu, sebenarnya beberapa pemasokan yang bisa disupply Indonesia, harusnya Indonesia bisa mengambil peluang itu. Mungkin detail barangnya belum bisa di-breakdown, tetapi mengisi kekosongan yang sebelumnya datang dari negara-negara tersebut bisa menjadi kesempatan,” katanya.
Selain itu, ia menilai Indonesia masih memiliki posisi yang cukup kompetitif dibandingkan negara-negara lain di Asia, termasuk dalam menghadapi perubahan kebijakan tarif perdagangan global.
“Indonesia ini termasuk negara yang cukup oke, masih bisa berkompetisi juga dengan negara-negara Asia lainnya. Jadi memang masih ada ruang untuk kita tetap tumbuh, walaupun secara pendekatan kita harus bergeser sedikit,” ujarnya.
Scott menekankan bahwa setiap krisis seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk membangun ketahanan ekonomi yang lebih baik melalui strategi baru. Menurutnya, perubahan rantai pasok global mendorong negara-negara untuk mencari sumber pasokan dan mitra dagang yang lebih beragam.
“Challenge itu bikin kita harus melihat opportunities di tempat lain. Organisasi atau negara yang bisa bertahan sampai sekarang pasti pernah menghadapi krisis dan perubahan supply chain, tetapi karena mereka bisa berstrategi dan melewatinya, mereka menjadi lebih resilient,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi pasar dan rantai pasok di tengah era ketidakpastian global. Produk-produk Indonesia, menurutnya, perlu diarahkan ke lebih banyak negara agar tidak bergantung pada pasar tertentu.
Baca Juga: Investor Patriot-Merah Putih Bond Kebal Hukum, Celios Ingatkan Risiko Reputasi RI
Baca Juga: Indonesia Perlu Lakukan Hal Ini Agar Jadi Tujuan Investasi Utama ASEAN
“Di era uncertainty seperti sekarang, diversifikasi itu penting, termasuk mendiversifikasi supply chain dan melihat produk-produk yang ada sekarang bisa dijual ke negara mana lagi,” ujarnya.
Scott menambahkan, jaringan global yang dimiliki WTCA dapat menjadi salah satu pintu untuk membuka peluang tersebut. Dengan anggota yang tersebar di Amerika Serikat, Eropa, hingga Amerika Latin, organisasi itu siap membantu mempertemukan pelaku usaha dengan pasar baru dan menjawab kebutuhan permintaan di berbagai kawasan.
“Ini momen kita belajar untuk diversifikasi, mencari partner yang lebih resilient karena opsi kita banyak,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: