Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Menguat di Level 6.128, Bayang-Bayang Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Utama

IHSG Menguat di Level 6.128, Bayang-Bayang Evaluasi MSCI Jadi Perhatian Utama Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka mencatatkan penguatan 48,872 poin atau 0,80% ke level 6.150,205 pada Rabu (24/6/2026). 

Berdasarkan data perdagangan pada sekitar pukul 09.01 WIB, IHSG dibuka di level 6.128,271 dan sempat menyentuh level tertinggi harian 6.150,981, sementara level terendah berada di 6.127,184.

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan dominasi saham yang menguat. Sebanyak 291 saham berada di zona hijau, 111 saham melemah, dan 216 saham bergerak stagnan. Volume transaksi tercatat mencapai 756,589 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp521,127 miliar, serta frekuensi perdagangan sebanyak 60.744 kali.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pada awal sesi ini tercatat berada di kisaran Rp10.790,160 triliun, mencerminkan sentimen positif pelaku pasar di pembukaan perdagangan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal pergerakan IHSG diproyeksikan masih dalam koreksi wajar selama berada di “wave (b)”, meskipun IHSG berhasil menguji garis MA20, dengan membentuk pin bar. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume..

"Adapun perilisan MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 waktu Indonesia akan menjadi sentimen utama yang sangat krusial bagi pergerakan IHSG pekan ini," kata dia.

MSCI menilai investor masih memiliki kekhawatiran terhadap aspek investabilitas pasar Indonesia, terutama terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham. MSCI mengapresiasi reformasi yang dilakukan OJK, BEI, dan KSEI, termasuk peningkatan keterbukaan kepemilikan saham >1%, implementasi kerangka HSC, serta roadmap kenaikan minimum free float menjadi 15%. 

Namun, MSCI menekankan bahwa implementasi yang konsisten dan dampak jangka panjang tetap menjadi faktor utama. Jika hingga MSCI Index Review November 2026 belum terlihat kemajuan yang memadai, MSCI dapat mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk konsultasi untuk mereklasifikasikan Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Frontier Market (FM).

Baca Juga: Ingat! Status Emerging Market Indonesia di MSCI Berlaku Hingga November 2026

Baca Juga: MSCI Pertahankan Status Indonesia sebagai Emerging Market

Dari global, Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Selasa karena aksi jual besar-besaran di sektor teknologi. Penurunan bersejarah di pasar saham Korea Selatan akibat melemahnya sektor teknologi berdampak pada pasar ekuitas global dan menghantam produsen chip AS serta perdagangan AI secara keseluruhan. 

Di sisi lain, tekanan eksternal dari dinamika geopolitik Timur Tengah agak mereda seiring dengan adanya perkembangan diplomasi AS–Iran. Meskipun demikian, tekanan tersebut masih belum hilang sebab Iran masih terus mengembangkan program nuklirnya.

"Ditambah lagi dengan narasi market bergeser menjadi higher for longer, bahkan sebagian pelaku pasar mulai menunda ekspektasi pemangkasan Fed Rate. Kondisi ini biasanya kurang ideal untuk emerging market termasuk Indonesia," pungkas dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra