Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Teknologi AI China Makin Laku Keras, Konsumsi Token LLM Tembus 100 Triliun per Hari

Teknologi AI China Makin Laku Keras, Konsumsi Token LLM Tembus 100 Triliun per Hari Kredit Foto: Reuters/Tingshu Wang
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) China menunjukkan perkembangan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perdana Menteri China Li Qiang menyebut industri AI nasional mengalami pertumbuhan eksplosif yang ditandai dengan berbagai terobosan teknologi dan meningkatnya penerapan AI di berbagai sektor.

Dalam pidatonya pada sidang pleno pembukaan Pertemuan Tahunan untuk Para Juara Baru (Annual Meeting of the New Champions) ke-17 atau yang dikenal sebagai Forum Davos Musim Panas di Kota Dalian, China timur laut, Li mengungkapkan bahwa sejumlah model bahasa besar (Large Language Model/LLM) buatan China berhasil mencatatkan peningkatan performa yang tajam.

Menurut Li, hingga akhir Mei 2026, konsumsi token harian LLM China telah melampaui 100 triliun. Angka tersebut menempatkan China sebagai salah satu negara dengan tingkat penggunaan teknologi model bahasa terbesar di dunia.

Konsumsi token LLM mengacu pada banyaknya jumlah token yang digunakan untuk setiap perintah yang dimasukkan ke dalam platform AI. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, pada kata "memperjuangkan" bisa menjadi "mem" + "per" + "juang" + "kan" atau empat 4 token.

Selain perkembangan pada model bahasa besar, Li juga menyoroti kemajuan AI berwujud (embodied AI). Teknologi tersebut kini mulai bergerak menuju tahap penerapan komersial dalam skala besar, menandakan semakin luasnya pemanfaatan AI dalam aktivitas ekonomi dan industri.

Li menegaskan bahwa inovasi menjadi faktor utama yang mendukung ketahanan ekonomi China dalam jangka panjang serta menjaga pertumbuhan ekonomi yang stabil. Menurutnya, kemajuan teknologi dan inovasi industri yang dicapai China merupakan hasil dari penguatan kemampuan nasional yang dilakukan selama bertahun-tahun serta kerja keras yang berkelanjutan.

Ia juga menilai keberhasilan inovasi China tidak hanya didorong oleh pengembangan teknologi semata, tetapi juga oleh penerapan yang luas di berbagai industri serta dukungan ekosistem inovasi yang kuat.

Dalam kesempatan tersebut, Li memperkenalkan konsep "China Opportunity 2.0" yang menurutnya menawarkan peluang baru bagi perusahaan-perusahaan global. Ia menyebut konsep tersebut mencerminkan pemberdayaan berbasis inovasi secara menyeluruh dan prospek investasi dengan potensi imbal hasil yang tinggi.

Pernyataan itu disampaikan di tengah munculnya kekhawatiran sejumlah pihak terhadap pesatnya perkembangan teknologi dan inovasi industri China. Li menyinggung adanya narasi yang menyebut kemajuan tersebut sebagai "China Shock 2.0", yang menggambarkan perkembangan China sebagai guncangan bagi perekonomian global.

Baca Juga: Termasuk Lockheed Martin, Ini Daftar 22 Perusahaan AS yang Produknya Tak Akan Dibeli China

Namun, Li menolak pandangan tersebut. Ia menilai perkembangan teknologi China justru menghadirkan peluang yang lebih luas bagi dunia, termasuk akses yang lebih besar terhadap teknologi canggih dan manfaat pembangunan yang dapat dirasakan secara lebih merata.

Menurutnya, bagi perkembangan global, "China Opportunity 2.0" berarti terbukanya akses yang lebih luas terhadap teknologi mutakhir sekaligus penyebaran manfaat pembangunan yang lebih inklusif bagi berbagai negara dan pelaku usaha di dunia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat