Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Ngamuk usai Senat Amerika Batasi Geraknya di Perang Iran

Trump Ngamuk usai Senat Amerika Batasi Geraknya di Perang Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluapkan kemarahan setelah senat meloloskan resolusi yang menyerukan penghentian permusuhan terhadap Iran. Resolusi yang dikenal sebagai "Undang-Undang Kekuatan Perang."

Trump menilai resolusi tersebut hadir pada saat yang tidak tepat, terutama ketika pemerintahannya mengklaim telah berhasil menekan posisi dari Iran.

Baca Juga: Lengkap dengan Tugasnya, Sony Sonjaya Balik Cepuin Nanik S Deyang di Kasus Korupsi MBG

"Senat AS memutuskan untuk mengadakan pemungutan suara resolusi itu pada waktu yang tidak tepat dan tidak berarti," ungkap Trump melalui Truth Social, dikutip Kamis (25/6).

Iran menurutnya berada dalam posisi terdesak dan mulai menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap Amerika Serikat. Hal itu terjadi usai tekanan militer dan diplomatik yang dilakukan Washington.

Namun menurutnya, langkah senat justru berpotensi melemahkan posisi tawarnya di tengah proses yang sedang berlangsung. Meski demikian, ia menegaskan dirinya tetap akan melanjutkan agenda kebijakan luar negerinya dan memastikan tujuan pemerintahannya terhadap Iran tetap tercapai.

"Saya akan menuntaskannya, dengan cara apa pun, karena saya selalu berhasil menuntaskannya," tegas Trump.

Resolusi tersebut sebelumnya juga telah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS). Ia menjadi penolakan simbolis paling kuat dari kongres terhadap kemungkinan perang baru dengan Iran.

Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkapkan hasil besar dari perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss. Ia menegaskan bahwa seluruh tujuan utama dalam negosiasi tersebut telah berhasil dicapai.

Menurut Vance, Amerika Serikat menetapkan empat tujuan utama sebelum memasuki meja perundingan dan seluruhnya kini telah membuahkan hasil awal yang signifikan.

Tujuan pertama adalah memastikan terbukanya Selat Hormuz. Vance mengatakan pihaknya telah membentuk mekanisme khusus untuk mencegah eskalasi konflik di wilayah tersebut. Ia menyebut aliran minyak dan gas melalui selat itu bahkan telah meningkat, serta terdapat kerangka kerja untuk menangani potensi insiden di masa depan.

Target kedua adalah menjaga gencatan senjata di kawasan. AS disebut membangun jalur komunikasi darurat antara pihak-pihak yang berpotensi terlibat konflik, termasuk Israel dan Hizbullah.

“Kami ingin memastikan jika terjadi penembakan, kami benar-benar saling berkomunikasi untuk menghentikannya,” kata Vance.

Poin ketiga yang disebut sebagai pencapaian penting adalah adanya pengizinan inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke Iran.

Tujuan keempat adalah membangun kerangka teknis untuk negosiasi lanjutan yang akan berlangsung dalam beberapa minggu ke depan. Meski demikian, Vance menegaskan bahwa kesepakatan akhir belum tercapai.

Baca Juga: Tak Cuma Tak Ditahan, Kejaksaan Bebaskan Roy Suryo untuk Lakukan Apa Pun Demi Lawan Jokowi di Sidang

“Ini baru fondasi. Kami belum membangun rumahnya. Tapi kami sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar