Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penjualan Melonjak, Mobil PHEV China Terancam Tarif Tambahan di Eropa

Penjualan Melonjak, Mobil PHEV China Terancam Tarif Tambahan di Eropa Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Celah yang selama ini dimanfaatkan produsen otomotif China untuk menjual mobil plug-in hybrid (PHEV) di Eropa kemungkinan akan segera tertutup. Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan tarif tambahan bagi model PHEV asal Negeri Tirai Bambu setelah sebelumnya hanya mengenakan bea masuk ekstra pada mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).

Kebijakan tersebut disebut sebagai respons atas meningkatnya penjualan kendaraan hybrid China di kawasan Eropa dalam beberapa tahun terakhir. PHEV dinilai menjadi alternatif bagi pabrikan China untuk mempertahankan ekspansi setelah kendaraan listrik murni terkena tarif tambahan sejak 2024.

Mengutip Carscoops, sejumlah produsen otomotif China mulai mengalihkan fokus ke model PHEV setelah Uni Eropa memberlakukan tarif terhadap mobil listrik. Strategi tersebut terbukti efektif karena kendaraan plug-in hybrid sejauh ini hanya dikenakan bea masuk standar sebesar 10 persen dan belum terkena pungutan tambahan seperti BEV.

Akibatnya, penjualan PHEV dari merek-merek China melonjak di pasar Eropa. Kondisi ini dinilai menciptakan celah yang memungkinkan produsen China tetap kompetitif meski kebijakan tarif kendaraan listrik telah diterapkan.

Menurut laporan yang mengutip pejabat tinggi Uni Eropa dan sumber industri, Komisi Eropa telah menyiapkan mekanisme untuk memberlakukan tarif tambahan terhadap mobil hybrid asal China. Kebijakan tersebut disebut dapat segera diterapkan setelah memperoleh dukungan mayoritas negara anggota.

Baca Juga: Daftar Mobil PHEV Terlaris Januari-Mei 2026 di Indonesia, Chery Tiggo 8 CSH Teratas

Jika aturan itu resmi berlaku, sejumlah produsen besar seperti BYD, Chery, dan SAIC berpotensi terkena dampaknya. Ketiga merek tersebut saat ini termasuk pemain yang agresif memperluas pasar kendaraan elektrifikasi di Eropa.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya Uni Eropa mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dari China sekaligus menekan ketimpangan perdagangan yang terus melebar.

Industri Otomotif Eropa Mulai Khawatir

Dalam beberapa tahun terakhir, industri otomotif Eropa semakin khawatir terhadap ekspansi agresif merek-merek China yang menawarkan teknologi modern dengan harga lebih kompetitif.

Baca Juga: Persaingan Makin Ketat, DFSK Tawarkan SUV PHEV yang Bisa Melaju 140 Km Tanpa BBM

Sejak Oktober 2024, Uni Eropa telah mengenakan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China di luar bea masuk standar sebesar 10 persen. Namun, kebijakan tersebut tidak mencakup kendaraan hybrid maupun plug-in hybrid.

Situasi itu dimanfaatkan sejumlah pabrikan China untuk menggenjot penjualan model PHEV di Eropa. Bahkan, sejumlah analis menilai pergeseran ke kendaraan plug-in hybrid menjadi salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi dampak tarif yang dikenakan pada mobil listrik murni.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman