Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bahlil Ungkap RI Resmi Impor Minyak Rusia, Komitmen Capai 150 Juta Barel

Bahlil Ungkap RI Resmi Impor Minyak Rusia, Komitmen Capai 150 Juta Barel Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kontrak impor minyak dari Rusia yang selama ini hanya menjadi pembahasan tingkat pemerintah akhirnya memasuki tahap pelaksanaan. Pemerintah memastikan kesepakatan tersebut sudah resmi diteken dan menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan energi nasional hingga akhir tahun.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi pasar energi dunia, Indonesia kini mengamankan komitmen pasokan minyak dalam jumlah besar dari Rusia. Nilainya mencapai 150 juta barel yang akan dikirim secara bertahap sesuai kebutuhan dalam negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kontrak impor minyak tersebut sudah resmi dilakukan melalui Lemigas yang merupakan Badan Layanan Umum di bawah Kementerian ESDM.

“Saya coba cek secara teknis ya, tapi yang saya tahu adalah kontrak sudah dilakukan. Dilakukan oleh Lemigas, BLU daripada Kementerian ESDM,” ujar Bahlil usai menghadiri Energy Forum di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Meski enggan membeberkan rincian volume yang telah dikunci dalam kontrak, Bahlil menyebut jumlah pasokan masih berpotensi bertambah. Menurutnya, ruang kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia masih terbuka untuk dikembangkan.

“Volumenya dia itu bisa berkembang lebih banyak lagi, tapi kontraknya sudah dilakukan,” kata Bahlil.

Kesepakatan tersebut menjadi tindak lanjut dari komunikasi intensif antara pemerintah Indonesia dan Rusia. Sebelumnya, kedua negara telah membahas kerja sama energi sebagai bagian dari hubungan strategis yang semakin erat.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung sebelumnya mengungkapkan Indonesia memperoleh komitmen pasokan minyak sekitar 150 juta barel dari Rusia. Pasokan tersebut disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan energi nasional hingga penghujung tahun.

Menurut Yuliot, pengiriman minyak tidak dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan dalam negeri. Karena itu, skema impor akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan infrastruktur.

Baca Juga: Prabowo Bercanda Soal BBM Tak Naik, Bahlil Disorot di Depan Ribuan Anggota NU

Di tengah kabar Rusia membatasi ekspor solar untuk mengatasi persoalan pasokan domestik mereka, pemerintah Indonesia memastikan kerja sama yang telah disepakati tidak akan terganggu. Bahlil menegaskan kesepakatan tersebut merupakan hasil komunikasi langsung antar-pemerintah atau government to government (G2G).

“Tidak (berdampak), kita kan sudah ada deal antara G2G dengan Presiden Putin dan Presiden Prabowo dan saya kan sudah melakukan komunikasi dengan Menteri ESDM Rusia,” jelas Bahlil.

Dengan kontrak yang telah diteken dan komitmen pasokan mencapai 150 juta barel, pemerintah berharap kebutuhan energi nasional tetap terjaga sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama