Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Negara Tahu MBG Bermasalah Sejak Awal, Tapi Prabowo Tak Pernah Minta Maaf

Negara Tahu MBG Bermasalah Sejak Awal, Tapi Prabowo Tak Pernah Minta Maaf Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan jurnalis Muchlis Ainur Rofik menyoroti pengakuan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan bahwa persoalan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terletak pada perencanaan.

Menurut Muchlis, pengakuan tersebut menunjukkan bahwa negara sebenarnya menyadari MBG bermasalah sejak awal.

"Video pengakuan LUHUT soal MBG ini penting. Untuk menunjukkan, sebenernya negara ini ada lah sedikit otaknya. Tahu lah mereka bahwa MBG ini proyek ngawur dari sononya. Sadar juga lah mereka kerusakan apa yang diakibatkan aliran duit segitu besarnya," tulis Konsultan Politik SMRC itu di akun X pribadinya, dikutip Jumat (26/6).

Namun, Muchlis mengaku kecewa karena tidak ada pengakuan atau permintaan maaf dari Presiden Prabowo Subianto. Yang muncul justru kata-kata kasar dan sikap meremehkan.

"Tapi kenapa tidak pernah satu kata pun soal pengakuan, soal kesalahan, soal permintaan maaf dari Presiden? Kenapa lagi-lagi yang keluar malah kata2 "NDASMU" dan ekspresi MENYE2?," ujarnya.

Ia juga menilai Presiden lebih sering menyalahkan dan mengancam pengkritiknya, bukan mengakui kesalahan kebijakan.

Sebelumnya, Luhut menegaskan bahwa perencanaan program MBG memang belum disiapkan secara matang sehingga menimbulkan berbagai persoalan dalam pelaksanaannya. 

Menurutnya, masalah tersebut dapat dihindari sejak awal jika penyusunan program dilakukan melalui kajian komprehensif.

"Jadi kita habis waktu bertengkar sesama kita, yang sebenarnya enggak perlu terjadi kalau dari awal perencanaannya, studinya, dilakukan dengan proper. Jadi masalah kita adalah ide-ide besar presiden tidak kita siapkan perencanaannya yang matang. Itu salah kita semua lah," ujarnya dalam sebuah seminar di kantornya, Kamis (25/6/2026).

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di Puncak Pekan Nasional Petani Nelayan XVII di Gorontalo menyinggung pihak-pihak yang menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan, mereka seharusnya datang langsung ke Gorontalo dan bertanya kepada anak-anak, petani, serta nelayan apakah program tersebut dibutuhkan atau tidak.

"Ada juga yang nggak setuju MBG. Harusnya mereka yang nggak setuju MBG datang ke sini, ya. Tanya itu petani, nelayan, MBG perlu atau tidak?" kata Prabowo, dikutip Kamis (25/6).

"Tanya anak-anak, MBG perlu atau tidak?" lanjut Prabowo yang kemudian dijawab 'perlu' dengan sorak.

Prabowo menegaskan tidak ada yang lebih genting daripada mengatasi perut lapar. Menurutnya, perut kosong yang tidak segera diisi bisa berakibat fatal, bahkan kematian.

Baca Juga: Wakil Ketua Komisi IX DPR Bocorkan: Tak Ada Lagi 80 Juta Orang Penerima MBG dan 27.800 Dapur Berpotensi Tidak Terpakai

Baca Juga: Usai Dua Elite Bertemu, Pemerintah Ungkap Jurus-jurus Baru guna Optimalkan Program MBG

"Katanya ada orang-orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira nggak ada lebih genting dari perut lapar. Orang perut lapar itu kalau nggak segera diisi, ya dia mati!" ucap Prabowo. 

Ia juga menyebutkan ramalan PBB bahwa kelaparan global tahun ini akan meningkat drastis, dari 300 juta orang dua tahun lalu menjadi 500–700 juta orang saat ini.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya