Investor RI Masih Kepincut Bitcoin dan USDT, Transaksi Kripto Naik 24%
Kredit Foto: Azka Elfriza
Bitcoin (BTC) dan USDT masih menjadi dua aset kripto yang paling banyak diminati investor Indonesia di tengah pertumbuhan transaksi aset kripto nasional.
Chief Executive Officer (CEO) Bybit Indonesia Lawrence Samantha mengatakan preferensi investor terhadap kedua aset tersebut belum banyak berubah meski harga Bitcoin masih bergerak volatil.
"Kalau Indonesia tetap yang paling populer itu Bitcoin dan USDT (Tether). Itu dua terbesar yang paling banyak diminati," kata Lawrence saat acara konferensi pers Bybit Indonesia's New Financial Platform di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, investor yang memilih Bitcoin umumnya memiliki orientasi investasi jangka panjang sehingga minat terhadap aset tersebut tetap bertahan meski harganya berfluktuasi.
"Walaupun harganya naik turun, terakhir kan di sekitar 64.000 dollar AS, tapi itu pun masih banyak yang berminat," ucap dia.
Selain Bitcoin, USDT juga banyak digunakan masyarakat Indonesia. Aset kripto berbasis stablecoin tersebut diminati untuk kebutuhan transaksi maupun investasi.
"USDT ini membuat semuanya jadi instan. Sekarang banya juga yang transaksi, investasi, menggunakan USDT," tutur Lawrence.
Minat terhadap aset kripto juga tercermin dari pertumbuhan aktivitas pasar aset keuangan digital. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah akun konsumen aset keuangan digital mencapai 22,69 juta pada Juni 2026, meningkat 1,32% dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp28,58 triliun. Angka tersebut tumbuh 24,20% dibandingkan transaksi pada Mei 2026.
Lawrence mengatakan aktivitas perdagangan juga dipengaruhi perkembangan dan sentimen pasar global. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah Real-World Asset (RWA), yakni aset fisik atau keuangan tradisional yang diubah menjadi token digital melalui proses tokenisasi.
"Kemudian juga misalnya platform apa yang menyediakan utility-utility tertentu yang dianggap membuat itu harganya pun bisa jadi bagus juga. Jadi itu hal-hal yang mempengaruhi," ucapnya.
Dari sisi demografi, investor kripto di Indonesia masih didominasi kelompok usia 20-30 tahun. Sementara itu, di Bybit mayoritas trader berada pada rentang usia 25-35 tahun.
Menurut Lawrence, perbedaan karakter antara trader dan investor juga berpengaruh terhadap volume transaksi. Trader cenderung melakukan transaksi lebih sering dibandingkan investor yang berorientasi jangka panjang.
"Misalnya modal Rp10 juta, tapi transaksi 100 kali itu volume-nya sudah Rp1 miliar. Dibanding mungkin orang yang modalnya Rp2 miliar, tapi transaksi mungkin sebulan cuma sekali. Jadi itu kan beda ya antara trader versus investor," terang dia.
Baca Juga: Bitcoin Turun 1,67%, Strategy Kembali Lepas 1.690 BTC
Baca Juga: Bitcoin Tembus Rp1,15 Miliar, Solana Malah Jadi Bintang Pasar Kripto
Baca Juga: Pencurian Bitcoin Rp1,6 Triliun Gegerkan Dunia Kripto, Pengguna Coldcard Terancam
Lawrence mengatakan karakter tersebut membuat nilai modal tidak selalu mencerminkan besarnya volume perdagangan. Frekuensi transaksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan nilai transaksi di pasar aset kripto.
Bybit Indonesia sendiri memperkuat kehadirannya di pasar domestik setelah mengakuisisi mayoritas PT Enkripsi Teknologi Handal pada April 2026. Platform tersebut telah beroperasi di Indonesia dengan pengawasan OJK melalui lisensi Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: