Kredit Foto: Dok. Kementan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memperkuat riset pertanian nasional sebagai upaya menekan ketergantungan impor komoditas strategis.
Melalui kerja sama penelitian senilai Rp40 miliar, pemerintah menargetkan lahirnya inovasi berbasis riset yang mampu menggantikan kebutuhan impor pada lima komoditas strategis.
Dia menuturkan, saat ini Indonesia tercatat merogoh kocek APBN sebesar Rp300 triliun lebih untuk impor komoditas strategis, meski sudah turun sebesar Rp41 triliun dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
"Total kerjasama hari ini (dengan UGM) ada kurang lebih 5 komoditas, itu Rp40 miliar," ungkap Amran saat ditemui di kediamannya, Senin (29/6/2026).
Adapun kelima komoditas strategis tersebut, Amran memaparkan yakni bawang putih, kedelai, pakan ternak, pupuk olahan batu bara atau kalium humat, dan sapi perah GaMa (gagah dan macho).
"Untuk kedelai kita kerjacsama karena sudah mendapatkan produktivitas 3 ton per hektar," jelas Amran.
Meski tanpa penandatanganan nota kesepakatan (MoU), Amran mengatakan kerja sama ini berbentuk pembelian langsung hasil penelitian UGM atas komoditas strategis tersebut.
"Langsung kita beli dan kemudian kita kawal bersama. Uji sampai 1000 hektar 2000 hektar untuk kedelai, begitu juga bawang putih kita
langsung kawal bersama. Ini sangat baik, kolaborasi ini sangat baik," terang Amran.
Di sisi lain, Rektor UGM, Ova Emilia, menyebut Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebagai sosok eksekutor yang mampu menjembatani hasil-hasil riset perguruan tinggi menjadi program nyata yang dirasakan masyarakat.
"Kami merasakan ini sangat istimewa karena dihadiri oleh semua organ universitas dan berbagai kalangan. Jadi peneliti, pusat studi, juga mahasiswa. Setidaknya selama saya menjabat, ini merupakan diskusi paling lengkap bersama seorang menteri," ujar Ova dikutip dari keterangan pers Kementan.
Menurut Ova, persoalan klasik yang selama ini dihadapi banyak peneliti adalah hasil inovasi yang berhenti di laboratorium dan tidak pernah diterapkan secara luas. Kondisi tersebut kerap menimbulkan rasa frustrasi di kalangan akademisi.
Baca Juga: Polisi Buka Suara soal Laporan Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Begini Perkembangannya
Baca Juga: Amran Klaim Era Prabowo Cetak Rekor Baru Pertanian, dari Harga Pupuk Turun hingga Produksi Beras
"Researcher ini juga merasa frustrasi pada saat hasil-hasil inovasinya itu tidak ditangkap. Saya kira apa yang disampaikan Bapak Menteri sangat betul sekali. Jadikan kami universitas sebagai jantung inovasi bagi bangsa ini," ujarnya.
Dalam forum tersebut, UGM memaparkan berbagai inovasi yang siap dikembangkan bersama Kementerian Pertanian, mulai dari padi amfibi Gamagora, kedelai lokal non-GMO, varietas kacang hijau dan melon premium, pengembangan kakao, sapi Gamma, vaksin penyakit hewan, hingga teknologi smart farming.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra