Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amran Klaim Era Prabowo Cetak Rekor Baru Pertanian, dari Harga Pupuk Turun hingga Produksi Beras

Amran Klaim Era Prabowo Cetak Rekor Baru Pertanian, dari Harga Pupuk Turun hingga Produksi Beras Kredit Foto: Dok. Kementan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim sektor pertanian mencatat sejumlah capaian penting pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari penurunan harga pupuk, kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP), hingga peningkatan produksi beras nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Amran saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo yang diikuti sekitar 100 ribu petani dari berbagai daerah di Indonesia.

Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, Amran menyampaikan apresiasi atas kebijakan pemerintah yang dinilai berhasil menurunkan harga pupuk di tengah tren kenaikan harga yang berlangsung selama puluhan tahun.

"Harga pupuk yang selama ini sejak merdeka sampai saat ini selalu naik, tetapi yang terjadi sejak kepemimpinan bapak Presiden, turun 20 persen dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Hidup bapak presiden!!" ujar Amran dalam sambutannya yang disiarkan melalui kanal YouTube Kementerian Pertanian, Rabu (24/6/2026).

Selain itu, Amran menyebut pemerintah telah menyederhanakan mekanisme penyaluran sarana produksi pertanian, terutama pupuk, guna mempercepat akses petani terhadap kebutuhan produksi.

Ia juga mengutip data Food and Agriculture Organization (FAO) yang menunjukkan produksi beras Indonesia mencapai 38 juta ton dan menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia.

"Dua hari yang lalu, pengumuman dari FAO, produksi beras kita tertinggi nomor empat dunia, mencapai 38 juta ton. Bukan kita yang umumkan tetapi FAO," katanya.

Menurut Amran, peningkatan produksi tersebut berdampak terhadap kesejahteraan petani. Ia menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) kini mencapai 127, yang diklaim sebagai level tertinggi dalam 34 tahun terakhir.

"Ini angka tertinggi selama 34 tahun terakhir," ujarnya.

Di sisi lain, Amran mengungkapkan sektor pertanian mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,74 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Capaian tersebut disebut menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.

Ia juga menyoroti perbaikan neraca perdagangan sektor pertanian. Menurutnya, nilai ekspor pertanian meningkat Rp166 triliun, sementara pengurangan impor beras medium menghasilkan efisiensi hingga Rp41 triliun.

"Ekspor pertanian kita naik Rp166 triliun, karena kita tidak impor beras medium lagi, impor turun Rp41 triliun. Jadi total keuntungan petani itu Rp200 triliun, bapak presiden," tegasnya.

Baca Juga: Laporkan Dugaan Permainan Harga Sawit ke Prabowo, Amran Minta Kapolri Periksa 274 Perusahaan

Baca Juga: Amran Turun Tangan, Ratusan Perusahaan Sawit Ketar-Ketir! Harga TBS Akhirnya Balik Naik

Ke depan, pemerintah juga mendorong program hilirisasi komoditas pertanian seperti kakao, mete, dan tebu. Program yang mencakup area sekitar 870 ribu hektare tersebut diproyeksikan mampu menciptakan sedikitnya tiga juta lapangan kerja hingga 2029.

"Dengan hilirisasi penanaman kakao, mete, tebu itu gratis dengan totalnya adalah 870 ribu hektar. Ini langsung perintah bapak presiden," kata Amran.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri