Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hasil Negosiasi Amerika, Selat Hormuz Kini Berada di Bawah Kendali Penuh Iran Selama 30 Hari

Hasil Negosiasi Amerika, Selat Hormuz Kini Berada di Bawah Kendali Penuh Iran Selama 30 Hari Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Selat Hormuz dipastikan kembali menjadi pusat perhatian dunia. Iran menegaskan akan memegang kendali penuh atas jalur pelayaran strategis tersebut selama 30 hari ke depan menyusul kesepakatan hasil negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas menyatakan bahwa pihaknya selama satu bulan ke depan akan menguasai, termasuk secara administrasi wilayah dari Selat Hormuz. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari implementasi kesepakatan yang baru dicapai antara Teheran dan Washington.

Baca Juga: Kejaksaan: Pihak Intervensi Bisa Kaburkan Objek Sidang Praperadilan Roy Suryo di Kasus Ijazah Jokowi

"Selat Hormuz akan kembali sepenuhnya berada di bawah administrasi kami dalam 30 hari ke depan," ujar Araghchi, dikutip Selasa (30/6).

Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab atas pengelolaan jalur pelayaran tersebut sepenuhnya berada di tangan Iran. Menurutnya, setiap bentuk campur tangan dari pihak lain maupun upaya membangun mekanisme pengelolaan di luar otoritas Iran justru berpotensi memperumit situasi keamanan di kawasan.

"Setiap campur tangan atau upaya menciptakan struktur paralel hanya akan semakin memperumit situasi, memicu ketegangan tambahan, dan menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis ini," katanya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Sebagian besar ekspor minyak mentah dari kawasan melewati perairan sempit tersebut, sehingga setiap perkembangan keamanan di wilayah itu selalu berdampak terhadap perdagangan internasional maupun pasar energi global.

Sebelumnya, Iran, Israel, dan Amerika Serikat memanas dan berperang, menyebabkan terhentinya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Saat itu Teheran menggunakan ancaman penutupan jalur tersebut sebagai alat tawar dalam upaya mendorong tercapainya penyelesaian konflik.

Kini, pembukaan kembali jalur itu menjadi salah satu poin penting dalam kerangka kesepakatan yang disusun melalui perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut juga mengatur bahwa selama proses negosiasi yang berlangsung selama 60 hari, keduanya tidak diperkenankan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran tersebut.

Ketentuan itu dinilai menjadi salah satu bentuk kompromi untuk memastikan arus perdagangan internasional tetap berjalan normal selama proses diplomasi berlangsung.

Iran sendiri dijadwalkan menggelar pembicaraan dengan Oman. Hal itu dilakukan guna membahas mekanisme pelaksanaan kesepakatan sesuai ketentuan hukum internasional serta koordinasi dengan negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Meski demikian, sejumlah analis menilai persoalan biaya pelayaran di Selat Hormuz berpotensi menjadi isu sensitif dalam perundingan berikutnya. Jika Iran memutuskan menerapkan pungutan setelah masa negosiasi berakhir, kebijakan tersebut diperkirakan akan memunculkan perdebatan terkait kewajiban hukum internasional serta kebebasan navigasi di salah satu jalur perdagangan terpenting dunia.

Baca Juga: Ada Tujuan Pribadi Jokowi di Safari ke Lampung: Pesan ke Prabowo hingga Masa Depan PSI

Dengan Iran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz selama 30 hari ke depan, perhatian dunia kini tertuju pada implementasi hasil negosiasi tersebut. Stabilitas jalur pelayaran itu akan menjadi faktor penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi global sekaligus menguji keberlanjutan kesepakatan diplomatik antara Teheran dan Washington.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar