Hanya Bisa ke China, Negara Lain Disebut Masih 'Hati-Hati' Beli Minyak Iran
Kredit Foto: Reuters/Lisi Niesner
Iran disebut belum berhasil memperluas penjualan minyaknya ke pasar internasional meski Amerika Serikat telah memberikan pengecualian sanksi yang membuka peluang ekspor ke negara selain China. Hingga kini, minyak Iran disebut masih dipasarkan dengan harga diskon kepada China karena calon pembeli lain masih bersikap hati-hati.
Mengutip ANTARA, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, Selasa (30/6/2026), mengatakan belum ada negara selain China yang membeli minyak Iran setelah pengecualian sanksi diberlakukan. Menurutnya, keraguan calon pembeli terhadap kemungkinan sanksi diberlakukan kembali menjadi faktor utama yang menghambat transaksi.
Bessent menjelaskan bahwa China tetap menjadi satu-satunya pembeli karena negara tersebut telah mengimpor minyak Iran bahkan ketika sanksi masih berlaku. Sementara itu, pembeli potensial lainnya masih mempertimbangkan risiko jika kembali bertransaksi dengan Iran.
Akibat kondisi tersebut, minyak Iran disebut masih dijual dengan harga diskon kepada China. Menurut Bessent, Iran belum mampu memanfaatkan sepenuhnya kelonggaran sanksi karena para pembeli khawatir akan kemungkinan menghadapi konsekuensi dari Departemen Keuangan AS apabila kebijakan sanksi kembali diperketat.
Ia menilai situasi tersebut justru memberikan insentif bagi Iran untuk melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat. Menurut Bessent, keterbatasan akses pasar ekspor menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong Iran untuk terus bernegosiasi.
Baca Juga: Prancis Ingin Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Iran: Kami Sarankan Tidak Memperumit Situasi
Sebelumnya, pada Kamis (25/6), Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan Iran telah memperoleh kesempatan untuk menjual minyaknya kepada pembeli selain China dan menerima pembayaran dalam dolar AS setelah Amerika Serikat mengeluarkan pengecualian sanksi.
Pengecualian tersebut menyusul keputusan Departemen Keuangan AS pada Senin (22/6) yang menerbitkan izin umum bagi penjualan minyak mentah dan produk petrokimia Iran hingga 21 Agustus 2026. Pemerintah AS juga mengaitkan kebijakan tersebut dengan kemajuan yang dicapai dalam proses negosiasi dengan Iran di Swiss.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: