Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Toyota Mulai Kehilangan Momentum, Penjualan Global Turun Empat Bulan Beruntun

Toyota Mulai Kehilangan Momentum, Penjualan Global Turun Empat Bulan Beruntun Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Toyota menghadapi tekanan yang semakin besar di pasar global. Meski masih menyandang status sebagai produsen mobil terbesar di dunia, pabrikan asal Jepang tersebut belum mampu keluar dari tren pelemahan penjualan yang telah berlangsung selama empat bulan berturut-turut.

Berdasarkan laporan penjualan global Mei 2026 yang dikutip dari Carscoops, Toyota membukukan penjualan 898.721 unit atau turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika digabungkan dengan Lexus, Daihatsu, dan Hino, total penjualan Grup Toyota mencapai 955.532 unit.

Penurunan ini memperpanjang tren negatif yang telah terjadi sejak Februari 2026 dan menjadi sinyal bahwa dominasi Toyota mulai menghadapi tantangan serius di sejumlah pasar utama.

China menjadi sumber tekanan terbesar. Penjualan Toyota di negara tersebut anjlok 31,7 persen menjadi 102.299 unit. Angka itu menunjukkan semakin beratnya persaingan yang harus dihadapi Toyota di pasar otomotif terbesar dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, produsen lokal China seperti BYD, Geely, dan Chery terus memperkuat posisinya melalui kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV) dengan harga yang lebih kompetitif serta teknologi yang berkembang cepat.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Toyota yang selama ini mengandalkan strategi elektrifikasi berbasis hybrid. Ketika pasar China bergerak semakin agresif ke arah kendaraan listrik murni dan PHEV, keunggulan hybrid yang selama bertahun-tahun menjadi kekuatan Toyota mulai menghadapi ujian.

Baca Juga: Toyota dan Mitsubishi Dongkrak Ekspor Otomotif Indonesia pada Mei 2026

Tekanan juga muncul di pasar Amerika Serikat. Meski penurunannya relatif tipis, yakni 0,6 persen menjadi 238.800 unit, pelemahan tersebut menunjukkan bahwa permintaan kendaraan mulai melambat di tengah ketidakpastian ekonomi dan tingginya biaya kepemilikan kendaraan.

Sementara itu, kawasan Timur Tengah mencatat kontraksi terdalam dengan penurunan mencapai 38,6 persen. Pelemahan di wilayah yang selama ini menjadi salah satu basis kuat Toyota tersebut turut memperberat kinerja global perusahaan.

Di tengah kondisi tersebut, model-model hybrid Toyota masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Permintaan terhadap kendaraan elektrifikasi berbasis hybrid tetap kuat di sejumlah negara dan menjadi bantalan penting bagi bisnis perusahaan.

Namun, ketergantungan pada hybrid juga mulai menimbulkan pertanyaan baru. Ketika kompetitor bergerak lebih agresif di segmen kendaraan listrik murni, Toyota dituntut untuk mempercepat adaptasi tanpa kehilangan keunggulan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Tekanan tidak hanya terjadi di sisi penjualan. Produksi global Toyota juga mengalami penurunan akibat penyesuaian jadwal produksi beberapa model serta perubahan kapasitas di sejumlah fasilitas manufaktur.

Baca Juga: Tanggapi Wacana Mobil Nasional, Toyota Ingatkan Pentingnya Bangun Ekosistem

Kombinasi antara melemahnya permintaan, meningkatnya persaingan kendaraan listrik, serta penyesuaian produksi menunjukkan bahwa Toyota kini memasuki fase yang lebih menantang dibandingkan beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, posisi Toyota masih jauh dari kata krisis. Dengan skala bisnis global yang besar, portofolio produk yang luas, serta dominasi di segmen hybrid, perusahaan masih memiliki fondasi yang kuat. Namun, tren empat bulan penurunan berturut-turut menjadi pengingat bahwa lanskap industri otomotif dunia sedang berubah cepat, dan bahkan pemain terbesar sekalipun tidak kebal terhadap tekanan pasar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman