Trump Bantah Perang Iran Akan Bernasib seperti Afghanistan: Hampir Semua Tuntutan Amerika Dipenuhi
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membantah anggapan akan pangannya konflik dengan Iran. Menurutnya, perang tersebut tak akan berubah menjadi perang berkepanjangan seperti yang pernah dialami Amerika Serikat di Afghanistan.
Trump menegaskan situasinya saat ini jauh berbeda karena jalur diplomasi masih berjalan dan negosiasi disebut telah mencapai kemajuan signifikan. Iran menurutnya telah menyetujui hampir seluruh poin yang diinginkannya dalam pembahasan menuju kesepakatan final antara kedua negara.
Baca Juga: IKN Proyek Jokowi Terlalu Sepi, Tak Cocok Jadi Proyek Markas Investasi Prabowo
"Iran telah menyetujui hampir semua yang kami butuhkan," kata Trump, dikutip Jumat (3/7).
Trump kemudian membandingkan konflik di Iran dan Afghanistan. Keduanya menurutnya memiliki perbedaan, salah satunya adalah bagaimana perang yang dulu berlangsung sangat lama. Ia menilai operasi militernya jauh lebih singkat sehingga kecil kemungkinan berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
"Perang Iran berlangsung jauh lebih singkat," ujar Trump.
Trump bahkan menyebut bahwa butuh waktu satu dekali lebih agar perang berakhir di Afghanistan. Ia juga mengungkit bahwa secara historis, konflik tersebut berlangsung hampir 20 tahun, termasuk melewati masa jabatan pertamanya sebagai presiden.
Selain optimistis terhadap jalannya negosiasi, ia juga mengklaim pemerintahannya telah berhasil melemahkan kemampuan militer musuh selama konflik berlangsung dengan Iran.
"Saya berhasil mengalahkan mereka secara militer," ujarnya.
Namun Trump juga mengakui bahwa musuh masih memiliki sejumlah rudal yang tersisa. Ia mengatakan bahwa pemerintah sebenarnya masih mampu menghancurkan persenjataan tersebut apabila diperlukan.
Trump juga mengungkapkan bahwa militernya masih melakukan operasi terhadap sasaran dari Iran. Ia dilakukan hingga pekan lalu sebagai respons atas serangan yang menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Meski menunjukkan sikap tegas secara militer, sang presiden menegaskan pemerintahannya tetap memprioritaskan penyelesaian melalui jalur diplomasi.
"Kami sedang bernegosiasi, dan kita lihat nanti," kata Trump.
Sebelumnya, Trump beberapa kali menyampaikan bahwa musuh telah berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir melalui nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani bulan lalu.
Namun, komitmen tersebut sejatinya bukan hal baru. Iran juga pernah menyatakan janji serupa dalam perjanjian nuklir tahun 2015 yang dimediasi oleh Eks Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Trump saat itu justru mengkritik keras kesepakatan tersebut sebelum akhirnya menarik negaranya keluar dari perjanjian pada 2018.
Trump juga pernah mengklaim kali ini musuh bersedia menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada Amerika Serikat. Namun Iran membantah klaim tersebut dan menyebut isu uranium justru masih menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan kedua negara.
Baca Juga: Iran Diguncang Isu Kudeta Politis di Tengah Negosiasi dengan Amerika, Khamenei Jadi Target
Perbedaan pandangan mengenai sejumlah poin penting itu menunjukkan bahwa proses negosiasi masih menyisakan tantangan. Meski demikian, sang presiden tetap meyakini konflik yang sedang berlangsung tidak akan berkembang menjadi perang berkepanjangan seperti Afghanistan. Ia optimistis kesepakatan masih dapat dicapai melalui jalur diplomatik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: