Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tantangan Besar Perusahaan Tiongkok Saat Ekspansi ke Luar Negeri dan Peluang bagi Indonesia

Tantangan Besar Perusahaan Tiongkok Saat Ekspansi ke Luar Negeri dan Peluang bagi Indonesia Kredit Foto: PTPP
Warta Ekonomi, Jakarta -

Strategi "corporate real estate" dipandang menjadi faktor penting dalam ekspansi agresif perusahaan-perusahaan asal Tiongkok. Namun, riset terbaru JLL menunjukkan ada banyak kendala yang dihadapi perusahaan dalam mengelola kebutuhan properti.

Dalam laporan "Thriving Beyond: Corporate Real Estate Strategies for Chinese Companies Going Global", JLL mengungkap bahwa 97 persen perusahaan menganggap ekspansi internasional sangatlah penting, tetapi sebagian besar masih memasuki pasar baru tanpa perencanaan efektif.

Co-CEO Greater Tiongkok JLL Anny Zhang menjelaskan bahwa corporate real estate kini memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan ekspansi internasional. 

"Keputusan terkait strategi lokasi, pengelolaan aset, perencanaan tempat kerja, hingga koordinasi lintas negara menjadi faktor penting yang mendukung keberhasilan ekspansi internasional dan daya saing global perusahaan-perusahaan Tiongkok. Topik ini menarik karena berdampak tidak hanya bagi perusahaan Tiongkok, tetapi juga bagi pemilik properti di berbagai negara," ujar Anny Zhang.

Hasil survei JLL menunjukkan sebanyak 82 persen perusahaan Tiongkok yang berekspansi ke luar negeri mengalami tantangan tak terduga saat memilih lokasi usaha. Hal tersebut menyebabkan keterlambatan proyek bagi hampir dua pertiga responden dan pembengkakan biaya bagi lebih dari separuh perusahaan. Bahkan hampir sepertiga responden terpaksa menggunakan lokasi yang kurang ideal atau bersifat sementara agar kegiatan operasional dapat segera dimulai.

Selain persoalan lokasi, tantangan terbesar lainnya adalah perbedaan ekspektasi mengenai waktu respons yang dialami 78 persen responden. Hampir dua pertiga perusahaan juga mengaku kesulitan beradaptasi dengan praktik bisnis properti yang berbeda di setiap negara.

Head of Research Tiongkok JLL Daniel Yao menilai perbedaan sistem dan praktik commercial real estate di setiap wilayah kerap memicu kesalahpahaman.

"Commercial real estate memiliki cara kerja yang berbeda di setiap wilayah dan perbedaan tersebut dapat dengan mudah menimbulkan kesalahpahaman bahkan perselisihan kontrak bagi perusahaan yang belum memiliki pemahaman mendalam terhadap pasar lokal. Kami melihat bahwa banyak perusahaan Tiongkok yang berekspansi ke luar negeri mengakui masih minimnya pemahaman terhadap pasar properti setempat, sehingga mereka tidak memiliki tolak ukur yang memadai untuk mengambil keputusan terkait kualitas lokasi, tren sewa, maupun dinamika pasokan," ujar Daniel Yao.

Hambatan lainnya muncul dalam proses negosiasi dengan pemilik properti setempat. Perusahaan sering dihadapkan pada ketentuan sewa yang kurang fleksibel, klausul kontrak yang tidak selalu jelas, serta perbedaan budaya dan bahasa yang berpotensi menimbulkan kesalahan interpretasi terhadap regulasi maupun kebutuhan operasional.

JLL juga mengidentifikasi tujuh skenario utama kebutuhan corporate real estate perusahaan yang berekspansi ke luar negeri, mulai dari pembukaan kantor pertama, pengembangan toko ritel, penyewaan gudang logistik, pembangunan fasilitas industri hingga pusat data.

Pada pembukaan kantor pertama di luar negeri, tantangan terbesar berasal dari minimnya koordinasi antarbagian dalam perusahaan. Proses pemilihan lokasi yang hanya melibatkan tim bisnis tanpa dukungan divisi corporate real estate, hukum, keuangan maupun teknologi informasi dinilai meningkatkan risiko kesalahan dan biaya tambahan.

Di sektor ritel, perusahaan menghadapi keterbatasan lokasi premium, tingginya persyaratan kredibilitas finansial dari pemilik properti, hingga tantangan memahami rantai pasok di negara tujuan. Perbedaan regulasi desain dan konstruksi bangunan juga sering memaksa perusahaan melakukan penyesuaian berulang yang berdampak pada keterlambatan proyek.

Sementara itu, sektor industri dan logistik menghadapi tantangan berbeda. Di Eropa, misalnya, perusahaan logistik asal Tiongkok harus menyesuaikan diri dengan praktik kontrak sewa jangka panjang selama tujuh hingga sepuluh tahun, berbeda dengan kebiasaan di Tiongkok yang lebih banyak menggunakan kontrak jangka pendek. Kebutuhan terhadap gudang bersertifikasi untuk penyimpanan barang berbahaya juga terkendala keterbatasan pasokan dan perbedaan standar kepatuhan di masing-masing negara.

Menurut Zhang, sebagian besar tantangan tersebut sebenarnya dapat diminimalkan melalui perencanaan yang lebih matang dan dukungan profesional. Salah satu solusi yang dinilai efektif bagi perusahaan yang baru memulai ekspansi internasional adalah memanfaatkan flexible office karena menawarkan komitmen jangka pendek, efisiensi biaya, serta fasilitas yang lebih lengkap sebelum perusahaan beralih ke kantor konvensional.

Riset JLL juga menunjukkan meningkatnya kesadaran perusahaan Tiongkok untuk mengelola ekspansi secara lebih profesional. Sebanyak tiga perempat responden berencana membangun proses pemilihan lokasi internasional yang lebih terstandarisasi, sementara hampir separuh perusahaan akan menggunakan jasa konsultan properti profesional dalam dua tahun mendatang.

Country Head JLL Indonesia Farazia menilai tren Tiongkok+1 membuka peluang pertumbuhan bagi Indonesia. Semakin banyak perusahaan Tiongkok yang mempertimbangkan Indonesia sebagai basis produksi maupun pusat operasional regional, sehingga diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap kawasan industri, fasilitas logistik, hingga ruang perkantoran.

Baca Juga: KEK Batang Siapkan SDM Industri untuk Tekan Risiko Turnover Karyawan

Menurut Farazia, perusahaan kini mulai menyadari bahwa keberhasilan ekspansi internasional tidak hanya bergantung pada peluang pasar, tetapi juga pada kemampuan menyusun strategi properti yang terstruktur, dukungan mitra profesional, serta pemahaman mendalam terhadap dinamika pasar lokal agar pengambilan keputusan menjadi lebih tepat dan berkelanjutan.

Layanan yang paling banyak dibutuhkan perusahaan meliputi pendampingan dalam pemilihan lokasi, interpretasi regulasi dan kebijakan properti, riset pasar, hingga koordinasi desain serta konstruksi. Perubahan tersebut dinilai mencerminkan semakin matangnya strategi ekspansi global perusahaan-perusahaan Tiongkok, dengan corporate real estate yang kini dipandang bukan sekadar kebutuhan operasional, melainkan aset strategis untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: