Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Barantin Terima Hibah US$200 Ribu dari FAO untuk Bangun Sistem Biosekuriti yang Tangguh

Barantin Terima Hibah US$200 Ribu dari FAO untuk Bangun Sistem Biosekuriti yang Tangguh Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Karantina Indonesia (Barantin) resmi menjalin kolaborasi strategis bersama organisasi pangan dunia, Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), untuk memperkuat sistem karantina hewan nasional. Langkah ini direalisasikan melalui peluncuran program kerja sama teknis bertajuk FAO Technical Cooperation Programme di Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).

Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, mengungkapkan pogram kemitraan ini mendapatkan sokongan dana hibah dari FAO sebesar US$00.000 demi membangun sistem biosekuriti yang tangguh. Suntikan dana tersebut akan dimanfaatkan sepenuhnya untuk memodernisasi manajemen risiko berbasis sains dan teknologi, melalui peluncuran program FAO Technical Cooperation Programme (TCP/INS/4101), Strengthening Animal Quarantine Risk Management through Integrated Assessment and Response Toward Agri-Threats, yang diawali melalui Inception Workshop tersebut. 

“Barantin tidak ingin menjadi bottleneck di perbatasan. Namun, percepatan arus barang juga tidak boleh mengorbankan keamanan hayati Indonesia. Karena itu, kami terus membangun sistem karantina yang modern, berbasis risiko, berbasis data, dan selaras dengan standar internasional agar mampu melindungi ketahanan pangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Karding saat jumpa pers, Selasa (7/7/2026). 

Karding melanjutkan, ancaman Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), penyakit hewan lintas batas, penyakit zoonosis, hingga spesies asing invasif tidak hanya berdampak pada sektor peternakan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, menurunkan produktivitas, menghambat ekspor, bahkan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Untuk itu, sinergi dengan FAO ini ditargetkan mampu mendeteksi sekaligus mengantisipasi potensi masuknya ancaman penyakit sebelum menyentuh wilayah kedaulatan Indonesia. 

“Barantin bersama FAO akan memperkuat kapasitas nasional dalam pengelolaan risiko karantina hewan melalui tiga langkah utama,” jelas Karding.  

“Pertama, meningkatkan kompetensi petugas karantina dalam melakukan analisis dan manajemen risiko sesuai standar internasional. Kedua, mengembangkan sistem digital terintegrasi yang mendukung pemetaan Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), analisis risiko, surveilans, dan Early Warning System (EWS) sehingga proses pengambilan kebijakan menjadi lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti ilmiah,” lanjut dia.  

“Ketiga, meningkatkan kesadaran masyarakat melalui komunikasi risiko dan kampanye publik agar pencegahan penyakit dapat dilakukan secara bersama-sama,” lugas Karding mengakhiri. 

Baca Juga: Percepat Layanan Ekspor, Barantin Bakal Deregulasi 22 Aturan

Baca Juga: Kejar Target 5.000 Desa Ekspor, Kemendes Gandeng Barantin

Sementara itu, Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan bahwa tantangan penyakit hewan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Menurutnya, pendekatan One Health menjadi kunci dalam menjaga kesehatan hewan, manusia, tumbuhan, dan lingkungan secara terpadu.

“Sistem karantina hewan merupakan garda terdepan dalam melindungi negara dari ancaman penyakit lintas batas. FAO berkomitmen mendukung Barantin memperkuat kapasitas analisis risiko berbasis teknologi digital agar Indonesia semakin siap menghadapi berbagai ancaman, sekaligus menjaga keamanan perdagangan, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem,” ujar Rajendra Aryal. 

Penguatan sistem biosekuriti nasional ini diposisikan sebagai investasi ekonomi jangka panjang yang sangat krusial bagi republik. Standardisasi pelayanan karantina berkelas dunia dipercaya bakal mendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Dwi Aditya Putra