Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

MBG Bawa Berkah atau Petaka? Kementan Akui Selama Libur Harga Pangan Anjlok

MBG Bawa Berkah atau Petaka? Kementan Akui Selama Libur Harga Pangan Anjlok Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini disebut menjadi motor penggerak permintaan pangan kini justru disorot setelah harga ayam dan telur di tingkat peternak mengalami penurunan. Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui kondisi tersebut berkaitan dengan berhentinya sementara pelaksanaan MBG selama masa libur sekolah.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan, program MBG selama ini menyerap kebutuhan ayam dan telur dalam jumlah besar. Ketika kegiatan tersebut terhenti selama liburan sekolah, permintaan ikut turun sehingga pasokan di pasar menjadi melimpah.

"MBG ini punya kebutuhan besar terhadap ayam dan telur, selain kebutuhan lain seperti beras, sayur," kata Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian belum lama ini.

Menurutnya, tingginya permintaan dari program MBG sebelumnya mendorong peternak meningkatkan produksi. Banyak kandang terisi penuh, bahkan bermunculan peternak baru untuk memenuhi kebutuhan program tersebut.

Baca Juga: Roy Suryo Harus Kuat! Kasus Ijazah Jokowi Diklaim sebagai Kejahatan Luar Biasa

Namun, saat sekolah libur sekitar tiga pekan dan MBG ikut dihentikan sementara, kondisi berbalik. Produksi yang sudah telanjur tinggi tidak diimbangi permintaan sehingga harga ayam dan telur di tingkat peternak mengalami penurunan.

"Karena memang MBG ini besar. Sekarang salah satunya mungkin bertambah pengaruhnya karena tiga minggu anak sekolahnya libur," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Kementan berencana mengevaluasi pola produksi peternak agar lebih menyesuaikan dengan kalender akademik. Langkah itu diharapkan mampu mengurangi gejolak pasokan ketika permintaan dari program MBG berubah secara musiman.

Sudaryono mengakui situasi ini merupakan pengalaman baru bagi pemerintah sehingga masih membutuhkan penyesuaian kebijakan.

"Ini kondisi baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan insyaallah kita belajar dari kondisi ini sehingga di waktu-waktu yang akan datang kita lebih prima," ucap Sudaryono.

Baca Juga: Sampai Lakukan Ini, Dokter Tifa Teriak Butuh Dana Banyak untuk Lawan Jokowi

Sebagai langkah menjaga keseimbangan harga, pemerintah menetapkan harga ayam hidup (live bird) minimal Rp19.500 per kilogram dan harga telur ayam Rp24.000 per kilogram di tingkat peternak mulai 15 Juli 2026.

Menurut Sudaryono, pemerintah akan memastikan seluruh pelaku usaha mematuhi kesepakatan tersebut agar kesejahteraan peternak meningkat tanpa mengorbankan kepentingan konsumen.

"Kalau ini dipatuhi maka akan menaikkan kesejahteraan peternaknya, hidupnya tambah baik, dan memastikan kemudian di harga HET-nya juga sesuai, kemudian konsumen atau pedagang di tahap akhir itu menjual sesuai dengan harga HET," tambah Sudaryono.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri