Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pergerakan Rupiah Akan Jadi Saksi Upaya Gangguan Politik ke Bank Indonesia (BI): Pasar Tidak Bodoh

Pergerakan Rupiah Akan Jadi Saksi Upaya Gangguan Politik ke Bank Indonesia (BI): Pasar Tidak Bodoh Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pergerakan nilai tukar rupiah dinilai dapat menjadi indikator utama bagaimana pasar merespons dinamika yang terjadi di Bank Indonesia (BI). Investor hingga pelaku pasar lainnya akan mencermati setiap perkembangan yang berpotensi memengaruhi independensi bank sentral.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengatakan investor tidak hanya melihat kondisi fundamental ekonomi, tetapi juga memperhatikan apakah kebijakan moneter masih dijalankan secara independen atau mulai dipengaruhi kepentingan politik.

Baca Juga: Jaksa Lakukan Kesalahan Fatal, Dokter Tifa Ungkap Kelemahan Dakwaan Baru Kasus Ijazah Jokowi

"Pasar tidak bodoh. Mereka bisa membaca, jika seorang gubernur bisa dijatuhkan karena tekanan politik, maka kebijakan bank sentral selanjutnya akan selalu tunduk pada suara yang paling keras di lingkar kekuasaan, bukan pada hitungan neraca dan proyeksi inflasi," ujar Berly, dikutip Kamis (30/7/2026).

Ia menilai persepsi seperti itu dapat memengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap kebijakan Bank Indonesia. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi berdampak pada stabilitas rupiah serta efektivitas kebijakan moneter.

Berly menegaskan bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan di dalam bank sentral, melainkan kredibilitas lembaga yang selama ini menjadi penjaga stabilitas moneter nasional. Ia menjelaskan, apabila kredibilitas bank sentral mengalami penurunan, maka kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi juga akan semakin berat.

"Ketika kredibilitas merosot atau bahkan hilang maka akan jauh lebih sulit jaga nilai rupiah dan inflasi," ujarnya.

Berly mengingatkan bahwa dampak akhirnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar atau sektor keuangan, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Ia bahkan menggambarkan pentingnya kepercayaan terhadap bank sentral melalui sebuah analogi yang cukup mengerikan bagi rupiah.

"Kredibilitas adalah nyawa bank sentral. Begitu kredibilitas itu wafat, rupiah bukan hanya akan melemah, melainkan akan sekarat tanpa ada yang bisa menolong," katanya.

Baca Juga: Kasus Ijazah Bikin Susah, Bocoran Diskusi Jokowi & Teman Almamater UGM: Beliau Pamit, Mohon Maaf...

Menurut Berly, independensi bank sentral merupakan salah satu faktor yang menjadi perhatian utama investor ketika menilai prospek sebuah negara. Karena itu, setiap dinamika yang menimbulkan persepsi adanya tekanan politik terhadap bank sentral berpotensi memengaruhi sentimen pasar di Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar