- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
ESDM Buka Relaksasi Produksi Nikel, Dirjen Minerba: Hanya untuk Smelter!
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi membuka ruang relaksasi produksi nikel yang dijadwalkan mulai berjalan pada bulan Juli 2026 ini. Langkah strategis ini diambil murni untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pemurnian (smelter) di dalam negeri yang masih kekurangan pasokan.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menegaskan bahwa pelonggaran ini tidak dimaksudkan untuk menggenjot produksi nasional secara jor-joran, melainkan fokus pada pemenuhan hilirisasi domestik.
"Ini saya mau jelaskan nikel tidak ada kenaikan, kecuali hanya mengejar yang untuk smelter yang yang masih kekurangan supply," kata Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Tri melanjutkan, tambahan kuota ini hanya untuk menambal celah kebutuhan industri dan dipastikan tidak akan membuat angka produksi melonjak drastis.
"Jadi penambahan untuk nikel enggak terlalu signifikanlah hanya untuk mengejar yang yang itu (kebutuhan smelter)," lanjutnya.
Guna mengimplementasikan kebijakan tersebut, pemerintah membuka kesempatan bagi perusahaan tambang untuk mengajukan penambahan kuota produksi. Kendati demikian, Kementerian ESDM akan selektif dan tidak ragu untuk menganulir permohonan yang tidak sesuai kriteria.
"Silahkan (perusahaan) masukin (mengajukan penambahan) silahkan kalau misalnya ini (gak sesuai) kan tinggal ditolak-tolakin doang," tambah Tri.
Ketegasan ini diberlakukan demi menjaga keseimbangan pasar. Pemerintah berkomitmen mengawal relaksasi ini secara ketat dan terukur agar tidak menimbulkan kondisi kelebihan pasokan (over supply) di pasar domestik.
"kalau angkanya enggak ini tapi belum clear apa maksudnya hanya untuk mengejar yang itu tapi jangan sampai kita tahan pokoknya jangan sampai ada over supply. Itu aja,'' tambahnya.
Baca Juga: ESDM Sebut LNG US$13 per MMBTU Berlaku Sampai 31 Desember
Baca Juga: INDEF Soroti Defisit Bijih Nikel, Utilisasi Smelter Bisa Turun 30 Persen
Lebih lanjut, Tri memaparkan jenis bijih nikel yang saat ini dibutuhkan untuk menutup celah pasokan smelter tersebut mencakup jenis limonit (kadar rendah) maupun saprolit (kadar tinggi).
"Limonit. enggak patok. pokoknya jadi ada space yang kebutuhan smelter dengan produksi. Nah memang ada yang sebagian yang limonit sebagian saprolit. Nah itu aja buat nutup itu. Yang lain enggak ada....ya pokonya untuk hilirisasi," jelasnya.
Sebagai informasi, kenaikan produksi dari kebijakan relaksasi ini dipastikan tidak akan bergeser jauh dari target Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel tahun 2026 yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu berada di rentang 260 hingga 270 juta ton.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: