Kredit Foto: Uswah Hasanah
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menambahkan 37 saham ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) atau saham dengan indikasi konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Dengan penambahan itu, maka ada 51 emiten yang masuk dalam daftar saham HSC.
Penambahan ini dilakukan setelah BEI menyempurnakan metode penilaian HSC dengan memasukkan indikator baru, yakni price-impact ratio. Melalui metode tersebut, Bursa dapat mengidentifikasi saham yang mengalami perubahan harga signifikan meski aktivitas perdagangannya relatif rendah.
Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan BEI, sebanyak 37 saham tersebut dinilai memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi, di mana sebagian besar sahamnya dikuasai oleh kelompok pemegang saham tertentu dengan porsi rata-rata di atas 90% dari total saham yang beredar, baik dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Adapun 37 emiten yang baru masuk dalam daftar HSC meliputi:
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
- PT Bank Permata Tbk (BNLI)
- PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
- PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
- PT FAP Agri Tbk (FAPA)
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
- PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
- PT Siantar Top Tbk (STTP)
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
- PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
- PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
- PT MD Entertainment Tbk (FILM)
- PT Pelayaran Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
- PT Golden Flower Tbk (POLU)
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
- PT Bank Mega Tbk (MEGA)
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
- PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
Sebelumnya, sudah ada 14 saham lainnya yang lebih dulu terkena cap HSC dalam kurun waktu April hingga awal Juli 2026, yaitu:
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS)
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
Dengan demikian, total saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration berdasarkan metodologi terbaru BEI kini menjadi 51 emiten.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan BEI kembali memperkuat sistem pengawasan perdagangan saham dengan menambahkan indikator baru dalam proses penyaringan saham yang diduga memiliki HSC.
Menurut Jeffrey, penambahan indikator baru tersebut adalah price-impact ratio, yang akan digunakan untuk menilai pergerakan harga saham, khususnya pada emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.
"Kami telah menyempurnakan metodologi HSC dengan menambahkan satu kriteria baru, yaitu price-impact ratio untuk seluruh saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun," kata Jeffrey.
Jeffrey menyebut, indikator ini akan membantu BEI mengidentifikasi saham yang mengalami kenaikan atau penurunan harga secara signifikan, tetapi tidak didukung oleh aktivitas transaksi yang memadai.
Perhitungan price-impact ratio dilakukan dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity perdagangan. Sementara itu, velocity dihitung dari rata-rata volume transaksi dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar di publik (free float).
Baca Juga: BEI Tambah Indikator Baru Saham dengan Kriteria HSC
Baca Juga: Bertambah 37 Saham, Kini 51 Emiten Masuk Kriteria HSC
Dengan metode itu, saham yang pergerakan harganya sangat tinggi, meski volume perdagangannya relatif rendah akan menjadi perhatian khusus BEI untuk melihat apakah terdapat indikasi konsentrasi kepemilikan saham.
"Saham-saham yang memiliki price-impact ratio tinggi akan kami lakukan screening lebih lanjut untuk mengetahui apakah terdapat indikasi HSC," jelas Jeffrey.
Jeffrey menambahkan, BEI akan melakukan evaluasi menggunakan indikator baru tersebut setiap tiga bulan, bertepatan dengan jadwal peninjauan indeks-indeks utama di bursa. Sementara itu, mekanisme pengawasan melalui indikator lain yang sudah berlaku tetap dijalankan sewaktu-waktu apabila diperlukan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: