Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BEI Rela Saham RI Keluar dari Indeks Global demi Benahi Pasar

BEI Rela Saham RI Keluar dari Indeks Global demi Benahi Pasar Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki fokus utama untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan integritas pasar modal, bukan hanya sekadar memperbanyak jumlah saham Indonesia yang masuk ke indeks global. Karena, saham domestik harus memenuhi standar internasional secara sehat dan berkelanjutan agar dapat diterima penyedia indeks global.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan pengungkapan saham dengan kategori High Shareholding Concentration (HSC) merupakan bagian dari upaya memperkuat tata kelola pasar modal Indonesia. Status HSC menjadi salah satu faktor yang diperhatikan oleh penyedia indeks global seperti MSCI dan FTSE Russell dalam menentukan saham yang layak masuk ke dalam indeks mereka.

"Kami tentu ingin saham-saham Indonesia masuk ke indeks global dengan proses yang sehat dan sesuai standar yang berlaku. Transparansi dan integritas pasar menjadi hal yang paling diperhatikan oleh penyedia indeks global maupun investor internasional," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Jeffrey menyatakan, kebijakan ini dapat membuat beberapa saham Indonesia keluar dari indeks global dalam jangka pendek. Namun, Langkah itu merupakan bagian dari proses pembenahan pasar yang justru akan memperkuat posisi Indonesia dalam jangka panjang.

"Dalam jangka pendek memang mungkin ada beberapa saham yang keluar dari indeks global. Tetapi untuk jangka menengah dan panjang, kami optimistis semakin banyak saham Indonesia yang memenuhi standar dan dapat masuk ke indeks MSCI, FTSE, maupun S&P," ungkap dia.

Jeffrey menilai peningkatan transparansi dan integritas pasar merupakan fondasi utama untuk menarik lebih banyak investor global. Untuk itu, BEI terus berdiskusi dengan penyedia indeks internasional dan investor institusi agar reformasi yang dilakukan sejalan dengan praktik terbaik di pasar global.

"Tujuan kami sama, yaitu menjaga transparansi dan integritas pasar. Itu selalu menjadi topik utama dalam diskusi kami dengan penyedia indeks global dan investor internasional," ujar Jeffrey.

Sebagai bagian dari reformasi pasar modal, BEI telah merevisi metodologi penentuan saham HSC dengan menambahkan indikator price-impact ratio untuk saham berkapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Indikator ini digunakan untuk mengukur perubahan harga saham dibandingkan dengan aktivitas perdagangannya, sehingga dapat mengidentifikasi saham yang mengalami lonjakan harga besar tetapi didukung volume transaksi yang relatif rendah.

Baca Juga: BEI Sebut Hanya Butuh 15 Menit, Pengumuman S&P Bikin IHSG Langsung Rebound 2%

Baca Juga: BEI Tambah Indikator Baru Saham dengan Kriteria HSC

Melalui metode baru itu, BEI menambahkan 37 saham ke dalam daftar HSC, sehingga total saham yang masuk kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi kini menjadi 51 emiten.

Langkah ini merupakan bagian dari reformasi berkelanjutan untuk menciptakan perdagangan saham yang lebih transparan, wajar, dan efisien, sekaligus meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dwi Aditya Putra