Kredit Foto: Sufri Yuliardi
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memperoleh tambahan dana penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar sekitar Rp13 triliun dari Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Tambahan dana tersebut merupakan bagian dari penempatan SAL senilai Rp100 triliun yang dievaluasi setiap tiga bulan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan perseroan menerima tambahan alokasi dana SAL sekitar Rp13 triliun. Namun, ia tidak mengingat secara pasti total alokasi yang diterima seluruh perbankan.
"Saya lupa totalnya berapa, tapi kita ketambahan kurang lebih hampir Rp13 triliun BTN," kata Nixon kepada wartawan di Menara 2 BTN, Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Meski mendapat tambahan dana, Nixon menegaskan BTN siap mengembalikan dana SAL kepada pemerintah sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Pada penempatan tahap pertama, BTN menerima dana SAL sebesar Rp38 triliun yang disalurkan secara bertahap oleh Kementerian Keuangan.
Menurutnya, sebagian dana tersebut akan mulai dikembalikan pada September mendatang.
"Nanti September ada porsi yang harus dikembalikan. Aku lupa angkanya, tapi kita sudah siapkan semua," ujarnya.
Nixon menjelaskan seluruh dana SAL yang diterima BTN telah disalurkan menjadi kredit sesuai arahan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan pembiayaan.
Ia menambahkan penyaluran kredit dari dana SAL tersebar ke berbagai segmen, mulai dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit komersial, pembiayaan konstruksi hingga kredit kepada sejumlah badan usaha milik negara (BUMN), termasuk Perum Bulog.
"Berapa jadi KPR, berapa jadi komersial, konstruksi dan sebagainya itu semua ada. Untuk BUMN juga ada. Agak banyak BUMN sih, seperti Bulog dan sebagainya," tuturnya.
Baca Juga: Bos BTN Ungkap Penarikan Dana SAL Picu Bank Berebut Likuiditas
Baca Juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, BTN Perluas Pembiayaan Perumahan Berbasis Data
Secara kinerja, BTN mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp418,11 triliun hingga akhir Juni 2026. Realisasi tersebut tumbuh 11,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp376,11 triliun.
Pertumbuhan kredit ditopang oleh peningkatan pembiayaan sektor perumahan yang naik 4,8 persen secara tahunan menjadi Rp332,88 triliun dari Rp317,77 triliun. Sementara itu, kredit nonperumahan melonjak 46,1 persen menjadi Rp85,22 triliun dari Rp58,34 triliun pada semester I 2025.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra