Salis Investama Perkenalkan Teknologi AI Analisis Retina di ASMIHA 2026, Tawarkan Pendekatan Baru Prediksi Risiko Penyakit Jantung
Kredit Foto: Istimewa
Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam layanan kesehatan terus berkembang. Salah satu inovasi yang diperkenalkan pada Annual Scientific Meeting of Indonesian Heart Association (ASMIHA) ke-35 adalah teknologi analisis retina berbasis AI, Dr. Noon, yang menawarkan pendekatan baru dalam memprediksi risiko penyakit kardiovaskular melalui foto retina.
Teknologi yang dikembangkan di Korea Selatan tersebut memanfaatkan citra retina untuk membantu mengidentifikasi risiko Atherosclerotic Cardiovascular Disease (ASCVD) atau penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Selain mendukung penilaian risiko penyakit jantung, sistem ini juga dapat membantu mendeteksi sejumlah gangguan kesehatan mata melalui proses skrining yang bersifat non-invasif.
Pemanfaatan retina sebagai sumber informasi kesehatan menjadi perhatian dalam simposium bertajuk "Novel Methods to Predict ASCVD Risk" yang diselenggarakan pada Jumat (17/7) di InterContinental Jakarta Pondok Indah, Jakarta. Sesi tersebut menghadirkan dr. Sahil Thakur, Clinician Scientist sekaligus dokter spesialis mata asal Singapura, yang menjelaskan perkembangan bidang oculomics, yakni pemanfaatan data biologis dari retina untuk memahami kondisi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Menurut Thakur, retina merupakan satu-satunya bagian tubuh yang memungkinkan pembuluh darah diamati secara langsung tanpa prosedur invasif. Dengan bantuan kecerdasan buatan, informasi tersebut dapat diolah menjadi indikator yang membantu tenaga medis mengidentifikasi risiko penyakit kardiovaskular lebih dini.
"Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Sayangnya, banyak pasien baru ter-screening ketika gejala sudah muncul. Melalui perkembangan oculomics dan kecerdasan buatan, kami dapat mengekstraksi informasi klinis dari citra retina untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih cepat, mudah diakses, dan berpotensi dilakukan lebih dini. Teknologi ini bukan untuk menggantikan peran dokter, melainkan menjadi alat pendukung agar upaya pencegahan dapat dilakukan lebih efektif," ujar Thakur.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan layanan kesehatan preventif berbasis AI, mengingat besarnya populasi dan kebutuhan akan pemeriksaan kesehatan yang lebih luas. Menurutnya, teknologi seperti Dr. Noon dapat melengkapi pemeriksaan konvensional sehingga masyarakat berisiko tinggi dapat diidentifikasi lebih awal sebelum penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
"Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu negara terdepan dalam penerapan AI untuk layanan kesehatan preventif di kawasan. Ketika keahlian klinis dipadukan dengan teknologi AI yang telah tervalidasi, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi individu berisiko lebih cepat dan memberikan intervensi sebelum penyakit kardiovaskular berkembang. Pencegahan akan selalu lebih baik daripada pengobatan," katanya.
Teknologi Dr. Noon dihadirkan di Indonesia oleh PT Salis Investama sebagai distributor tunggal dan eksklusif. Partisipasi perusahaan dalam ASMIHA 2026 diwujudkan melalui booth pameran serta penyelenggaraan simposium ilmiah yang memperkenalkan pemanfaatan AI dalam skrining penyakit kardiovaskular kepada kalangan dokter spesialis jantung dan tenaga kesehatan.
Kehadiran teknologi tersebut juga disebut sejalan dengan upaya transformasi digital di sektor kesehatan yang tengah didorong Kementerian Kesehatan. Pemanfaatan kecerdasan buatan diharapkan dapat memperluas akses skrining dini, meningkatkan akurasi identifikasi faktor risiko, serta memperkuat layanan promotif dan preventif di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi
Tag Terkait: