Cegah Korban Jiwa, Teknologi Laser Baru Mampu Deteksi Miras Palsu Tanpa Buka Segel Botol
Kredit Foto: Ist
Sebuah inovasi teknologi berbasis laser dikabarkan siap membantu pihak berwenang di seluruh dunia untuk mendeteksi minuman keras (miras) palsu yang mematikan.
Sistem ini mampu mengidentifikasi kandungan bahan kimia berbahaya di dalam botol yang masih tersegel rapat tanpa harus membukanya.
Studi terbaru dari Universitas Adelaide di Australia menunjukkan bahwa sistem laser yang dirancang khusus ini sangat efektif mendeteksi kandungan metanol beracun. Hebatnya, alat ini tetap bekerja akurat meski cairan tersembunyi di balik botol kaca yang berwarna gelap.
Selama ini, kasus keracunan metanol menjadi ancaman kesehatan global serius yang merenggut ratusan korban jiwa setiap tahunnya. Metode pengujian konvensional pun dinilai kurang praktis karena botol harus dibuka terlebih dahulu untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
Namun, teknik optik baru yang diterbitkan dalam Journal of Physics: Photonics ini berhasil mengubah cara kerja tersebut dengan memanfaatkan teknologi canggih.
"Teknik ini menggunakan spektroskopi Raman untuk membaca 'sidik jari' kimia unik dari cairan melalui kemasan tanpa membukanya," tulis laporan penelitian tersebut, dikutip dari pernyataan resmi Universitas Adelaide, Kamis (16/7/2026).
Dengan memodifikasi bentuk sinar laser secara cermat serta mengubah panjang gelombangnya secara halus, tim peneliti berhasil meningkatkan sensitivitas alat ini secara drastis. Sistem ini mampu menyaring gangguan dari material botol kemasan dan fokus mendeteksi zat berbahaya di dalamnya, demikian laporan Xinhua.
Teknologi laser ini memiliki sejumlah keunggulan performa, di antaranya:
Sangat Akurat: Mampu mendeteksi metanol pada kadar sekitar 10 kali lebih rendah dari ambang batas keamanan internasional.
Noninvasif dan Cepat: Menawarkan alternatif pemeriksaan yang cepat tanpa merusak atau membuka kemasan produk.
Penulis utama penelitian, Ane Kritzinger yang juga merupakan kandidat PhD gabungan dari Universitas Adelaide dan Universitas St Andrews di Skotlandia ini menyatakan bahwa potensi teknologi ini sangat luas untuk masa depan industri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: