Kredit Foto: Cita Auliana
PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dapat memperkuat nilai tukar rupiah yang saat ini kembali mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Chief Economist SMF, Martin D. Siyaranamual, menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate akan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor asing. Dengan masuknya aliran modal asing tersebut berpotensi meningkatkan permintaan terhadap rupiah.
“Jadi harapannya ketika BI rate itu naik, investor dari luar negeri melihat bahwa berinvestasi di Indonesia itu lebih menguntungkan, maka dia akan taruh dolarnya, dia akan tukar dolarnya ke rupiah maka permintaan akan rupiah itu naik, sehingga tekanan terhadap rupiah itu turun,” kata Martin dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Menurut Martin, pelemahan rupiah saat ini tidak terlepas dari keluarnya dana investor dari pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar.
Ia pun menilai Bank Indonesia perlu mengambil langkah yang lebih agresif melalui kenaikan BI Rate agar instrumen keuangan Indonesia kembali kompetitif di mata investor global.
“Hari ini rupiah ditinggalin, makanya nilai tukar kita terdepresiasi cukup dalam. Posisi hari ini masih mungkin di sekitar angka 18 ribu, atau mendekati angka 18 ribu. Nah, poinnya apa? Poinnya, hari ini bank Indonesia harus lebih agresif,” jelasnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, SMF memproyeksikan BI Rate berpotensi naik hingga 6,75 persen pada akhir 2026 dari posisi saat ini sebesar 5,75 persen.
Martin mengatakan proyeksi tersebut merupakan skenario yang lebih pesimistis. Dalam skenario moderat, BI Rate diperkirakan berada di kisaran 6,25 persen hingga akhir tahun.
“BI rate yang kemungkinan besar, kalau berdasarkan proyeksi kami, di akhir tahun 2026 ini, itu akan mencapai posisi 6,75,” tuturnya.
Baca Juga: SMF Desak BI Lebih Agresif, BI Rate Diproyeksi Tembus 6,75% Akhir 2026
Baca Juga: BI Rate Berpeluang Naik ke 6%, Rupiah Diproyeksi Menguat
Ia menjelaskan, dalam dua bulan terakhir Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebanyak tiga kali. Menurutnya, peluang untuk kembali menaikkan suku bunga masih terbuka apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut.
“Jadi dia (BI Rate) naik 4 kali itu bukan hal yang aneh. Tapi angka 6,75% ini saya harus bilang itu adalah angka yang relatif pessimis. Moderatnya itu mungkin naik sekitar 2-3 kali lagi, jadi naik 50-75 bps, jadi posisi terakhir ini tuh ada di angka 6,25%,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: