Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amerika Ultimatum Teheran: Setiap Kapal Diserang, Kami Hancurkan Jembatan & Pembangkit Listrik Iran

Amerika Ultimatum Teheran: Setiap Kapal Diserang, Kami Hancurkan Jembatan & Pembangkit Listrik Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat menyusul pengumuman kontroversial dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia melontarkan ancaman keras terhadap Teheran.

Trump menyatakan dirinya akan sigap melindungi setiap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Ia menegaskan setiap serangan terhadap kapal yang melintas wilayah tersebut akan dibalas dengan penghancuran infrastruktur penting di Iran.

Baca Juga: Luput dari Pantauan, Terungkap Hubungan Sudaryono dengan Salah Satu Eks Kepala BGN

Ia memperingatkan bahwa sasaran balasannya bukan hanya instalasi militer, tetapi juga infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik. Bahkan, menurutnya, target serangan dapat berada di sekitar maupun di dalam ibu kota dari Iran, Teheran.

"From this point forward, any time they shoots at a ship, whether it be by missile, rocket, drone or any other device or weapon, twe will bomb and destroy one bridge or power plant, including those located next to, or in, the Capital City of Tehran," ungkap Trump dalam unggahannya di media sosial Truth Social, dikutip pada Kamis (23/7/2026).

Ultimatum tersebut disampaikan setelah sang presiden melanjutkan operasi serangan terhadap target-target militer selama 11 malam berturut-turut ke Iran. Operasi tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik yang terus meningkat di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah.

Di sisi lain, upaya diplomatik untuk meredakan konflik hingga kini belum menunjukkan perkembangan berarti. Baik Washington maupun Teheran masih mempertahankan posisi masing-masing terkait keamanan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz memiliki arti penting bagi perekonomian global karena menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia pada masa damai.

Baca Juga: UGM Ingatkan Prabowo: Kalangan Profesor Tak Akan Gentar Bayar Rp5 Juta Demi Tinggalkan Indonesia

Namun, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut kini terganggu akibat meningkatnya serangan yang dikaitkan dengan Iran. Hal tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar