Kredit Foto: Istimewa
Wakil Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA, Nizar Saputra, menyebut PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) bakal menjadi salah satu kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang menyerap produksi minyak dari sumur rakyat di Provinsi Aceh.
Menurut Nizar, Medco akan menjalin kontrak dengan Koperasi Tata Seuramo Peureulak yang menaungi pengelolaan sumur rakyat di Kabupaten Aceh Timur.
“Medco (dia ambil) untuk daerah Aceh Timur,” ungkap Nizar saat ditemui di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin (27/7/2026).
Rencana penyerapan tersebut dilakukan setelah Kementerian ESDM menyetujui usulan awal sebanyak 1.490 sumur rakyat di Aceh. Sementara itu, usulan tambahan sebanyak 607 sumur masih menunggu keputusan dari kementerian.
Sumur-sumur rakyat tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Dari ketiga wilayah itu, Aceh Timur dinilai paling siap sehingga kegiatan produksinya akan didorong lebih dahulu pada tahun ini.
Dalam pelaksanaannya, Nizar menjelaskan bahwa Medco tidak hanya bertindak sebagai pembeli minyak. Perusahaan juga akan terlibat dalam pembinaan koperasi, terutama terkait penerapan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan atau health, safety, security, and environment (HSSE).
“Nah itu Medco sama BPMA kita akan bina dari si koperasinya. Jadi proses itu akan berjalan sebelum minyak mulai dijual. Dia (Medco) sudah siapin nanti misalnya personil yang buat HSSE siapa, kendaraan yang diangkut berapa besarnya, bener enggak kendaraannya, Sama kemudian tempat penerimaannya di mana, kan itu semua berjalan bersamaan kan” jelasnya.
Meski demikian, Medco hanya akan menyerap minyak dari sumur rakyat yang berada di sekitar wilayah kerjanya. Perusahaan tidak akan menerima produksi dari sumur yang berada di luar area tersebut.
Oleh karena itu, sebelum transaksi pembelian minyak dilakukan, Medco terlebih dahulu bakal menandatangani perjanjian kerja sama dengan Koperasi Tata Seuramo Peureulak. Saat ini, proses verifikasi jumlah sumur dan kepemilikannya masih berlangsung sebagai dasar penyusunan perjanjian tersebut.
“Dianya (Medco) ya secara verbal di- dia sih oke enggak ada masalah. Cuman kan dia akan lihat yang mana bener-bener bagiannya dia kan? Jangan sampai nanti di luar area dia dia terima juga itu kan gak bisa,” tandasnya.
BPMA menargetkan proses kerja sama dan persiapan penyerapan minyak tersebut dapat diselesaikan paling cepat pada akhir Agustus 2026. Namun, pelaksanaannya juga bergantung pada kesiapan fasilitas penerima minyak di Pangkalan Susu yang dikelola oleh Pertamina.
“Kita sih Agustus ini. Iya insyaallah sih apa namanya yang paling cepat ini Agustus akhir kita mau. Karena kan sampai penampungnya harus ada Mas. Kan musti kerja sama sama rencana kita kan bawa ke Pangkalan Susu. Nah jadi di Pangkalan Susunya itu kan musti siap menerima kan? Kan Pangkalan Susu kan punya Pertamina. Nanti kan ada FSA-nya agreement. FSA agreement itu kan antara si Medco sama Pangkalan Susu. Walaupun mereka itu udah punya agreement yang sebelumnya kan tinggal diperluas agreement-nya menerima sumur masyarakat,'' tambanya.
Selain Medco, PT Pema Global Energi (PGE) juga diproyeksikan menyerap produksi minyak dari sumur rakyat di Aceh Utara. Perusahaan tersebut kemungkinan turut menerima produksi dari sumur rakyat di Kabupaten Bireuen.
“Habis itu PGE untuk di daerahnya Aceh Utara. He-eh, habis itu kan yang di Bireuen juga ada, Aceh Energi, tapi dia masih eksploitasi kan? Eksploitasi kan enggak bisa. Jadi kemungkinan besar yang sumur-sumur di area Bireuen yang di Aceh Energi yang masuk konsesinya Aceh Energi, kita akan bawa ke Aceh Utara,” ucapnya.
Secara keseluruhan, produksi dari sumur rakyat di Aceh diperkirakan dapat mencapai sekitar 1.000 sampai 1.500 barel minyak per hari. Meski demikian, Nizar menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa perhitungan kasar berdasarkan laporan produksi puncak tertinggi yang disampaikan masyarakat.
Baca Juga: PHE Kantongi 12 Joint Study, Perluas Portofolio Eksplorasi dengan 9 Wilayah Kerja Baru
Baca Juga: PHE Tambah 9 Wilayah Kerja Migas Baru untuk Ketahanan Energi
Tambahan produksi dari sumur rakyat diharapkan dapat menopang kinerja produksi minyak dan gas bumi Aceh pada tahun ini. Sebelumnya, kegiatan produksi migas di wilayah tersebut tidak berjalan maksimal selama hampir tiga bulan akibat dampak banjir.
“Ya tahun ini tapi kita udah declare kemungkinan besar kita enggak tercapai. Kan kita musti bilang kan kan kita bisa ngitung setahun ini berapa ada maksimum produksi kita kan? Nah ya karena udah kemarin kosong hampir tiga bulan sisanya kan kita enggak bisa ngejar. Nah kalau ada sumur masyarakat ini bisa kita masukkan sebagai hasil produksinya kita. Ini salah satu clue-nyalah,” tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: