Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Prabowo Harap Waspada, Presiden Bisa 'Dijatuhkan' Orang Terdekat di Istana: Lebih Baik Bapak Tahu...

Prabowo Harap Waspada, Presiden Bisa 'Dijatuhkan' Orang Terdekat di Istana: Lebih Baik Bapak Tahu... Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), Denny Indrayana menyampaikan pesan terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam pesannya, ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi seorang kepala negara bukan hanya datang dari lawan politik, tetapi juga dari informasi yang telah disaring oleh orang-orang di sekelilingnya.

Menurut Denny, proses penyaringan informasi di lingkungan pemerintahan berpotensi membuat presiden tidak memperoleh gambaran utuh mengenai kondisi yang sebenarnya. Jika hal itu terjadi, keputusan strategis yang diambil pemerintah dikhawatirkan berangkat dari data yang tidak lagi akurat.

Baca Juga: Beragam Skenario Disiapkan Jokowi untuk Gibran, Salah Satunya 'Prabowo Tak Bisa Lanjut Memimpin'

"Salah satu masalah terbesar menjadi presiden adalah tidak semua informasi bisa sampai apa adanya. Daya kerja Istana mungkin berbeda pada setiap masa kepresidenan," ujarnya, dikutip Rabu (29/7/2026).

"Tetapi satu hal yang saya yakini tetap sama, Istana menyaring siapa yang boleh bertemu Presiden, tapi juga menyaring informasi yang sampai ke Presiden," lanjutnya.

Menurut Denny, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena informasi yang telah melalui berbagai proses penyaringan berpotensi berubah dari fakta menjadi narasi yang telah dimanipulasi. Ia menilai hal tersebut merupakan ancaman serius bagi kualitas pengambilan keputusan pemerintah.

"Penyaringan informasi itulah yang berbahaya. Kebenaran yang disaring perlahan-lahan dapat berubah menjadi kebenaran yang dimanipulasi. Data yang diolah terlalu jauh dapat membuat Presiden mengambil keputusan yang keliru," tegasnya.

Denny juga menyoroti pentingnya memastikan validitas data yang digunakan pemerintah, terutama terkait indikator ekonomi nasional.

Ia mencontohkan data pertumbuhan ekonomi maupun angka-angka resmi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Menurutnya, data dari lembaga itu perlu dipastikan benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.

"Misalnya, pertumbuhan ekonomi dan angka-angka penting lainnya menurut BPS. Tolong dicek betul Pak, mintalah data sebenarnya," katanya.

Menurut Denny, mengetahui kondisi riil negara meskipun tidak menggembirakan jauh lebih baik daripada menerima laporan yang telah dipoles sehingga terlihat lebih baik dari kenyataan.

Baca Juga: Bantal Biru hingga Botol Misterius di Tengah Kematian Pria Diduga Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie

"Lebih baik bapak tahu angka sebenarnya, meskipun pahit, daripada disodori data yang salah, apalagi diolah. Kalau statistik yang ilmu pasti saja angkanya dikorupsi, maka yakinlah republik akan menuju arah kebijakan yang keliru," tuturnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar