Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ungkap Asal-usul Londo Ireng, Mahfud: Saat Belanda Datangkan Benjamin Thomas Sigar Hadapi Diponegoro

Ungkap Asal-usul Londo Ireng, Mahfud: Saat Belanda Datangkan Benjamin Thomas Sigar Hadapi Diponegoro Kredit Foto: Rena Laila Wuri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Istilah "londo ireng" kembali menjadi perbincangan setelah digunakan Presiden Prabowo Subianto. Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menjelaskan asal-usul istilah itu berdasarkan catatan sejarah yang, menurutnya, berkaitan dengan masa dari Perang Diponegoro.

Mahfud mengatakan istilah "londo ireng" bukan sekadar sebutan biasa, melainkan memiliki konotasi sebagai pihak yang membantu penjajah menghadapi pejuang dari Indonesia. Ia menyebut istilah tersebut mulai dikenal masyarakat ketika penjajah mendatangkan pasukan dari luar untuk membantu menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro.

Baca Juga: Mahfud MD: Tamparan Hotman Paris ke Prabowo Bukanlah Pelanggaran Hukum, Kecuali Presiden Merasa...

"Kerugian Belanda sangat besar sehingga didatangkan Benjamin Sigar. Nah di situlah orang itu menyebut londo ireng, meskipun kulitnya putih tetap disebut londo ireng. Benjamin ini sesudah pulang kan naik pangkat," jelas Mahfud dalam YouTube Mahfud MD Official, dikutip Rabu (29/7/2026).

Menurut Mahfud, istilah "londo ireng" kemudian berkembang sebagai simbol bagi pihak yang dianggap membantu kepentingan penjajah. Karena memiliki sejarah tersebut, ia menilai penggunaan istilah itu terhadap jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat menjadi persoalan serius.

"Jadi kalau orang disebut londo ireng itu kalau kritik dia, seperti pengamat, jurnalis yang paling banyak, itu agak menyakitkan karena londo ireng itu sejarahnya pengkhianatan terhadap perjuangan," katanya.

Mahfud menegaskan kritik terhadap pemerintah tidak bisa disamakan dengan tindakan mengkhianati bangsa. Ia menilai para jurnalis maupun kelompok masyarakat sipil selama ini justru menjalankan fungsi demokrasi dengan menyampaikan kritik dan solusi.

"Kalau kita selalu memberi solusi, masa disebut londo ireng. Kalau londo ireng itu tugasnya menumpas gerakan kemerdekaan," ujarnya.

Adapun Istana Negara memberikan penjelasan berbeda terkait pidato Presiden Prabowo. Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengatakan publik telah salah memahami maksud presiden.

Menurut Hasan, Prabowo tidak pernah menyebut seluruh jurnalis maupun lembaga swadaya masyarakat sebagai "londo ireng", melainkan hanya mengingatkan adanya pihak tertentu yang dinilai bekerja untuk kepentingan asing.

Baca Juga: Ahok: Bikin Parpol Baru Juga Tak Berguna, Rakyat Indonesia Sudah Tidak Percaya

Hasan juga menyebut kritik terhadap pidato tersebut lahir karena logical fallacy atau kekeliruan dalam menarik kesimpulan. Ia mencontohkan bahwa tidak semua anggota suatu kelompok otomatis memiliki karakteristik yang sama hanya karena presiden menyebut adanya sebagian pihak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: