Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IHSG Tinggalkan Level 6.100 Usai Melemah 0.64%

IHSG Tinggalkan Level 6.100 Usai Melemah 0.64% Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (29/7/2026). IHSG mengalami penurunan 0,64% atau setara 39,20 poin ke level 6.091,38, dari posisi pembukaan yang sempat bertengger di zona hijau.

Di sepanjang hari ini, indeks sempat menyentuh posisi tertinggi 6.174,41 dan menyentuh level terendah pada level 6.029,32. 

Berdasarkan data BEI, aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan volume transaksi mencapai 38,30 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp 22,78 triliun, frekuensi perdagangan 1,971 juta kali, dan kapitalisasi pasar mencapai Rp10.698,85 triliun.

Dari seluruh saham yang diperdagangkan sepanjang hari ini, ada 177 saham yang mengalami penguatan, 468 saham mengalami penurunan, dan 148 saham yang mengalami stagnan.

Dalam risetnya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan dibayangi banyak sentimen negatif dan berpeluang melanjutkan koreksi.

Secara teknikal, hal itu tercermin dari histogram MACD yang terus menyempit dan Stochastic RSI yang bergerak turun di area pivot.

"Kondisi ini menunjukkan ruang koreksi jangka pendek masih terbuka. IHSG diperkirakan akan menguji area support di kisaran 6.050-6.100," tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Menurut Phintraco Sekuritas, tekanan terhadap IHSG tidak lepas dari pelemahan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,41% ke level Rp18.083 per dolar AS, mendekati rekor terendah sepanjang masa di Rp18.190 per dolar AS.

Selain itu, pelaku pasar juga masih memilih bersikap wait and see menunggu penetapan Gubernur Bank Indonesia definitif. Ketidakpastian tersebut dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Dari sentimen global, investor mencermati langkah Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) yang tengah menyelidiki dugaan kelebihan kapasitas produksi dan praktik dumping manufaktur di sejumlah negara Asia, termasuk China, Vietnam, dan Korea Selatan.

"Jika penyelidikan tersebut berujung pada kebijakan baru, AS berpotensi menerapkan tarif impor tambahan terhadap negara-negara tersebut," ungkap Phintraco Sekuritas.

Indonesia juga diminta mewaspadai perkembangan tersebut, mengingat sebelumnya telah dikenakan tarif tambahan sebesar 10% oleh Amerika Serikat.

Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu (29/7/2026). Bank sentral AS diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dian Ihsan
Editor: Annisa Nurfitri