Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tekan Impor, Anak Usaha BUMI Bangun Pabrik Metanol Rp41,52 Triliun di Kaltim

Tekan Impor, Anak Usaha BUMI Bangun Pabrik Metanol Rp41,52 Triliun di Kaltim Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk., akan membangun pabrik metanol dengan investasi mencapai US$2,3 miliar atau setara dengan Rp41,52 triliun di kawasan BCIP Industrial Park, Kutai Timur, Kalimantan Timur. 

Presiden Direktur BEC, Rio Supin, mengatakan pemilihan metanol sebagai produk utama proyek gasifikasi batu bara didasarkan pada hasil studi perusahaan pada 2025. Studi itu menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan metanol domestik masih dipenuhi dari luar negeri.

“Untuk pemilihan metanol sendiri, yang melatarbelakangi kami adalah hasil studi yang kami lakukan di tahun 2025, di sini menunjukkan bahwa di Indonesia menurut data BPS kebutuhan metanol tahun lalu adalah 1,9 juta ton, dimana 68%-nya saat ini adalah impor atau sekitar 1,3 juta ton. Tahun 2025 secara devisa kita menghabiskan sekitar 400 juta USD per tahun untuk impor metanol setara dengan Rp 7,1 triliun," kata Rio dalam penandatanganan kontrak FEED dan EPCC Framework Agreement di Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Ketergantungan terhadap impor tidak hanya membebani devisa, tetapi juga membuat pasokan metanol nasional rentan terhadap kenaikan harga di pasar internasional. Risiko tersebut semakin besar ketika kondisi geopolitik global memengaruhi harga komoditas.

“Di tahun 2026 ini dengan kondisi geopolitik perang di Timur Tengah, harga metanol naik secara signifikan, sehingga kami perkirakan devisa kita yang keluar untuk impor metanol jauh lebih tinggi. Hal inilah yang mendasari pemilihan kami kepada produk metanol dibandingkan beberapa produk lain yang dapat dihasilkan dari gasifikasi batu bara ini,” bebernya.

Data Kementerian ESDM, industri dalam negeri saat ini hanya mampu memproduksi metanol sebesar 600 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan B50 yang dimandatory pada 1 Juli 2026, kebutuhannya mencapai 2,5 juta ton. Artinya RI membutuhkan impor metanol mencapai 1,9 juta ton per tahun. 

Jumlah ini berpotensi meningkat apabila dikemudian hari pemerintah meningkatkan kadar campuran FAME dalam biodiesel ke depan. 

Untuk menangkap potensi pasar tersebut, pabrik metanol milik BEC akan mengolah batu bara berkalori rendah dengan nilai kalori sekitar 3.300 kcal/kg GAR dengan kapasitas 7,7 juta ton per tahun.

Dari bahan baku tersebut, pabrik ditargetkan menghasilkan metanol sebanyak 2 juta ton per tahun pada tahap pertama. Selain metanol, fasilitas ini juga akan menghasilkan produk sampingan berupa asam sulfat.

Kapasitas produksi kemudian direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 3,6 juta ton per tahun.

Seiring dengan kepastian jalannya proyek, Rio mengunkapkan perusahaan juga telah memperoleh sejumlah pernyataan minat dari calon pembeli melalui penandatanganan letter of intent atau LOI.

Namun, BEC belum memasuki tahap perjanjian penyerapan produksi atau offtaker agreement karena proyek masih berada pada fase awal pengembangan. Calon pembeli disebut masih menunggu kemajuan proyek sebelum melanjutkan ke tahap perjanjian yang lebih mengikat.

Baca Juga: PGE Amankan Fasilitas US$75 Juta untuk Proyek Panas Bumi

Baca Juga: BRMS Ambil Alih Citra Palu Minerals Rp164 Miliar dari BUMI

“Jadi yang (pabrik2) CPO-CPO penghasil FAME-FAME itu yang akan jadi target utamanya. Tapi targetnya seperti tadi, kita targetnya adalah domestik market, sisanya baru kita ekspor,” tuturnya.

BEC menargetkan proyek tersebut memasuki tahap commissioning pada 2029 dan mulai beroperasi secara komersial pada 2030. Setelah beroperasi, produksi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan ekspor menjadi pilihan apabila kebutuhan domestik telah terpenuhi.

Kehadiran pabrik tersebut diharapkan dapat menggantikan sebagian pasokan metanol impor, menghemat devisa, serta memperkuat ketersediaan bahan baku bagi industri biodiesel dan industri turunan metanol. Proyek ini juga akan meningkatkan nilai tambah batu bara berkalori rendah yang selama ini relatif sulit dipasarkan.

BEC merupakan perusahaan patungan yang dibentuk pada 2023 oleh PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal. Kedua anak usaha PT Bumi Resources Tbk. tersebut masing-masing memiliki 50 persen saham BEC.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra