Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sempat Terhenti, Anak Usaha BUMI Hidupkan Kembali Proyek Eks Air Products

Sempat Terhenti, Anak Usaha BUMI Hidupkan Kembali Proyek Eks Air Products Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan dua anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), kembali melanjutkan pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang sempat terhenti setelah rencana kerja sama dengan Air Products batal.

Presiden Direktur BEC Rio Supin mengungkapkan pekerjaan lapangan proyek tersebut sebenarnya telah dimulai sejak 2020. Saat itu, perusahaan telah melakukan sebagian pekerjaan pematangan lahan untuk mendukung rencana pembangunan fasilitas metanol bersama Air Products.

“Jadi kan gini, sebenarnya kalau pekerjaan lapangan sudah mulai. Jadi di video tadi yang gambar tanah tadi itu real di lapangan. Tanah itu sebenarnya sudah kita kerjakan dari tahun 2020 kan kalau dulu ada projek Air Products, itu sudah pernah kita bikin setengah matang tapi karena Air Products-nya projeknya batal, kita stop,” kata Rio dalam sesi doorstop, Rabu (29/7/2026).

Setelah beberapa tahun terhenti, pekerjaan di lokasi proyek kembali dilanjutkan pada 2025. BEC saat ini masih menjalankan pematangan lahan sambil menyelesaikan tahapan rekayasa dan desain proyek.

Rio menyebut progres pematangan lahan telah mencapai sekitar 70%. Meski pekerjaan lapangan sudah berjalan, BEC belum menetapkan jadwal resmi peletakan batu pertama atau groundbreaking. Perusahaan masih menyesuaikan jadwal dengan kesiapan proyek dan penyelesaian sejumlah tahapan teknis.

“Ya nanti mungkin nanti dikasih tahu sebentar lagi kita schedule-nya kapan groundbreaking,” ujar Rio.

BEC saat ini memasuki tahapan Front-End Engineering Design atau FEED serta penyusunan paket desain proyek. Setelah tahapan tersebut selesai, perusahaan akan segera memesan sejumlah peralatan dengan masa pengadaan panjang atau long lead item.

Menurut dia, waktu penyediaan setiap peralatan berbeda-beda. Sebagian peralatan dapat tersedia dalam waktu enam bulan, sedangkan peralatan lain membutuhkan waktu hingga 12 sampai 18 bulan.

Pemesanan peralatan tersebut menjadi tahapan krusial karena BEC menargetkan proses commissioning pabrik dapat dimulai pada 2029.

“Kalau kita mau mengejar tahun 2029 berarti PDP-nya selesai, apa PDP itu? Process Design Package-nya selesai, dapet license-nya sudah jelas didesainkan ini lho barangnya, kita harus cepat order. Nah jadi itu next step-nya, sambil pematangan lahan jalan terus,” tutur Rio.

Baca Juga: PGEO Kantongi Pembiayaan US$75 Juta dari Bank Mizuho untuk Proyek Panas Bumi

Baca Juga: BRMS Ambil Alih Citra Palu Minerals Rp164 Miliar dari BUMI

Pada tahap pertama, proyek BEC dirancang menghasilkan 2 juta ton metanol per tahun. Kapasitas tersebut selanjutnya direncanakan meningkat secara bertahap hingga 3,6 juta ton per tahun.

Proyek membutuhkan batu bara sekitar 7,7 juta ton per tahun untuk bahan baku proses gasifikasi serta bahan bakar pembangkit. Batu bara yang digunakan merupakan batu bara berkalori rendah sekitar 3.300 kilokalori per kilogram GAR.

Berdasarkan hasil studi kelayakan yang diselesaikan pada 2025, nilai investasi proyek diperkirakan mencapai lebih dari US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,52 triliun. Proyek akan dikembangkan di atas lahan seluas 93 hektare di kawasan Batuta Chemical Industrial Park, Kutai Timur.

BEC menargetkan commissioning proyek berlangsung pada 2029, sedangkan produksi metanol secara komersial diharapkan dimulai pada 2030.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra