Bangkit Pascabencana, Wakil Menteri ESDM Tinjau Percepatan Penyelesaian Proyek PLTA Batang Toru
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah mempercepat penyelesaian proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, guna memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sumatera sekaligus mendukung peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot saat melakukan kunjungan kerja ke proyek yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut. Dalam kunjungan itu, Yuliot meninjau sejumlah fasilitas utama, mulai dari bendungan (dam), jalur transmisi, lahan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH), hingga powerhouse.
Kunjungan diawali dengan paparan perkembangan proyek dari manajemen PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), dilanjutkan arahan Wakil Menteri ESDM serta diskusi mengenai langkah-langkah percepatan penyelesaian proyek.
Yuliot mengatakan penyelesaian PLTA Batang Toru menjadi penting mengingat kebutuhan penguatan pasokan listrik di sistem Sumatera masih cukup besar.
"Kondisi penyediaan tenaga listrik di Sumatera saat ini memerlukan penguatan melalui percepatan penyelesaian proyek-proyek pembangkit, salah satunya PLTA Batang Toru 510 MW. Dengan keterbatasan ketersediaan energi primer lainnya, kehadiran PLTA Batang Toru yang siap on-grid akan menjadi bagian penting dalam memperkuat pasokan listrik di sistem Sumatera," ujarnya.
Menurut manajemen NSHE, hingga Juli 2026 progres fisik pembangunan telah mencapai 89,49 persen. Capaian tersebut menandai keberhasilan proyek kembali ke posisi yang sama seperti sebelum bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara pada 24–25 November 2025.
Bencana tersebut sempat merusak fasilitas transmisi, infrastruktur pendukung bendungan, powerhouse, serta akses menuju lokasi proyek sehingga aktivitas konstruksi mengalami penundaan. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian itu merupakan cuaca ekstrem nonrutin dengan periode ulang lebih dari 200 tahun.
Dalam waktu sekitar delapan bulan setelah bencana, NSHE berhasil melakukan pemulihan infrastruktur sehingga pembangunan kembali berjalan sesuai target. Bendungan kini siap memasuki tahap initial impounding, sementara proses commissioning powerhouse berlangsung sesuai rencana. Selain itu, pengujian switchyard telah selesai 100 persen dan pemulihan jalur transmisi terus dilakukan.
Presiden Direktur PT NSHE Li Xinlu mengatakan dukungan pemerintah menjadi faktor penting dalam mempercepat penyelesaian proyek, termasuk melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Kementerian ESDM atas perhatian dan dukungan berkelanjutan terhadap proyek ini, termasuk melalui fasilitasi berbagai forum koordinasi lintas instansi yang membantu seluruh pihak mendiskusikan berbagai tantangan serta mencari solusi bersama. PLTA Batang Toru akan berperan penting dalam memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sumatera dan mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia," kata Li.
Meski demikian, NSHE menyampaikan pencapaian target Commercial Operation Date (COD) pada 2026 masih membutuhkan dukungan berbagai kementerian dan lembaga, terutama untuk mempercepat penyelesaian perizinan dan administrasi hukum sebagai prasyarat pelaksanaan tahap impounding.
Menanggapi hal tersebut, Yuliot menegaskan pentingnya sinergi lintas pemangku kepentingan agar berbagai hambatan proyek dapat segera diselesaikan.
"Kami membutuhkan dukungan dari seluruh kementerian/lembaga, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta koordinasi antara PT PLN dan anak perusahaannya agar setiap kendala dapat diselesaikan bersama demi mendukung penguatan bauran energi nasional," ujarnya.
Baca Juga: PLTA Senilai Rp 21,6 T di Sumut Dikebut, Target Operasi Oktober 2026
Selain membangun infrastruktur pembangkit, NSHE juga terlibat dalam penanganan dampak bencana di Kabupaten Tapanuli Selatan. Perusahaan membantu pemulihan akses jalan nasional dan provinsi, menyalurkan bantuan logistik ke 16 desa, menyediakan air bersih bagi sekitar 200 kepala keluarga, serta memperbaiki sejumlah fasilitas pendidikan dan rumah ibadah yang terdampak.
Di akhir kunjungannya, Yuliot menegaskan pemerintah akan terus mengawal penyelesaian proyek-proyek energi strategis nasional sesuai arahan Presiden.
"Sesuai arahan Bapak Presiden, kita harus melakukan antisipasi, pengecekan langsung ke lapangan, dan percepatan demi menjamin ketersediaan serta keandalan energi secara nasional," katanya.
PLTA Batang Toru memiliki kapasitas terpasang 510 MW dengan proyeksi produksi listrik mencapai 2.124,03 gigawatt hour (GWh) per tahun. Kehadiran pembangkit ini diharapkan menjadi salah satu penopang utama pasokan listrik di Sumatera sekaligus mendukung pencapaian target bauran energi baru terbarukan Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: