- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Grasberg Belum Pulih, Pendapatan PTFI Capai US$2,654 Mliar di Semester I 2026
Kredit Foto: PTFI
PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatatkan penurunan pendapatan produk sebesar 50,5% pada semester I 2026. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya volume penjualan tembaga dan emas akibat proses pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave yang masih berlangsung.
Berdasarkan laporan kinerja Freeport-McMoRan Inc. (FCX), pendapatan produk dari operasi Indonesia tercatat sebesar US$2,654 miliar pada semester I 2026, turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$5,361 miliar.
Penurunan pendapatan terutama berasal dari penjualan tembaga dan emas. Pendapatan tembaga tercatat sebesar US$1,420 miliar, turun dari US$3,088 miliar pada semester I 2025. Sementara itu, pendapatan emas turun menjadi US$1,100 miliar dari sebelumnya US$2,139 miliar.
Adapun pendapatan dari perak dan produk lainnya tercatat sebesar US$134 juta, meningkat dari US$134 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan tersebut terjadi karena volume penjualan PTFI mengalami tekanan. Penjualan tembaga semester I 2026 tercatat sebesar 235 juta pon, turun 67,9% dibandingkan semester I 2025 sebesar 733 juta pon.
Pada komoditas emas, penjualan turun dari 643 ribu ons menjadi 234 ribu ons, atau merosot 63,6%.
Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak insiden aliran lumpur eksternal di tambang Grasberg Block Cave pada September 2025. PTFI masih menjalankan proses remediasi, restorasi, dan peningkatan kapasitas produksi secara bertahap.
“Setelah insiden aliran lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah menjalankan serangkaian kegiatan untuk menangani insiden tersebut dan tetap berfokus pada peningkatan produksi secara aman dan berkelanjutan hingga mencapai kapasitas penuh,'' tulis manajemen FCX.
PTFI telah menyelesaikan kegiatan remediasi dan restorasi untuk memulai kembali Blok Produksi 2 dan 3. Aktivitas peningkatan produksi awal dimulai pada akhir Maret 2026.
Perusahaan memperkirakan tingkat produksi PTFI mencapai sekitar 65% pada semester II 2026, meningkat menjadi sekitar 80% pada pertengahan 2027, dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
Harga Tembaga dan Emas Beri Penopang
Meski pendapatan mengalami tekanan, kenaikan harga komoditas memberikan penahan terhadap penurunan kinerja PTFI.
Harga jual rata-rata tembaga meningkat menjadi US$6,04 per pon pada semester I 2026, dibandingkan US$4,35 per pon pada semester I 2025.
Harga emas juga meningkat signifikan menjadi US$4.709 per ons, dibandingkan US$3.260 per ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga tersebut membantu menjaga nilai pendapatan meskipun volume penjualan turun tajam.
Namun, tekanan operasional tetap terlihat dari sisi biaya. Biaya produksi dan pengiriman sebelum penyesuaian meningkat menjadi US$2,52 per pon tembaga, dibandingkan US$1,90 per pon pada semester I 2025.
Sementara itu, biaya pengolahan naik menjadi US$0,52 per pon dari sebelumnya US$0,19 per pon, dan royalti logam meningkat menjadi US$0,46 per pon dari US$0,27 per pon.
PTFI mencatat kredit kas bersih sebesar US$1,76 per pon tembaga pada semester I 2026, meningkat dibandingkan US$0,34 per pon pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan kredit produk sampingan dari emas.
Laba Kotor PTFI Terpangkas 74%
Penurunan pendapatan turut menekan profitabilitas operasi Indonesia.
Laba kotor PTFI turun 74,2% menjadi US$698 juta pada semester I 2026, dibandingkan US$2,710 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total biaya operasi tercatat sebesar US$1,966 miliar, turun dibandingkan US$2,687 miliar pada semester I 2025. Namun, penurunan biaya tersebut belum mampu mengimbangi penurunan pendapatan karena volume penjualan mengalami penurunan signifikan.
Selain itu, PTFI masih menanggung biaya fasilitas menganggur dan restorasi akibat insiden Grasberg. Biaya tersebut mencapai US$690 juta selama enam bulan pertama 2026 atau sekitar US$2,93 per pon tembaga dan tidak dimasukkan dalam perhitungan kredit kas bersih.
Pada sisi hilir, aktivitas pengolahan juga masih dalam tahap normalisasi. Freeport menyebut fasilitas PT Smelting telah kembali beroperasi pada kapasitas penuh pada akhir kuartal II 2026, sementara pengiriman menuju smelter PTFI akan kembali dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan konsentrat.
Baca Juga: Freeport Bidik Setoran ke Negara Rp120 Triliun pada 2028
Baca Juga: Kucing Liar Ditambang 2029, Setoran Freeport ke RI Bisa Tembus Rp120 T
Freeport memperkirakan variasi antara produksi dan penjualan PTFI masih akan terjadi hingga fasilitas pengolahan hilir mencapai tingkat operasi normal.
“FCX memperkirakan perbedaan antara produksi dan penjualan PTFI akan tetap lebih berfluktuasi hingga fasilitas pengolahan hilirnya kembali mencapai tingkat operasi normal,'' tulis manajemen.
Dengan kondisi tersebut, pemulihan pendapatan PTFI pada periode berikutnya masih sangat bergantung pada percepatan pemulihan Grasberg Block Cave dan peningkatan volume produksi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: