Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pemerintah Gelontorkan Rp100,1 Triliun untuk Pulihkan Bencana Besar di Sumatera

Pemerintah Gelontorkan Rp100,1 Triliun untuk Pulihkan Bencana Besar di Sumatera Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025 sebagai salah satu bencana terluas yang pernah ia tangani sepanjang kariernya.

Tito, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumatera, mengatakan skala bencana tersebut terlihat dari luasnya wilayah terdampak hingga jumlah warga yang harus mengungsi.

"Jadi inilah gambaran pada waktu bencana kita semua dan saya melihat dari data ini jujur saya merasa ini salah satu bencana yang terluas di Indonesia. Kita lihat datanya ya, itu yang displacement terjadinya pengungsian masyarakat yang berpindah terdampak karena bencana ini itu jumlahnya 2.107.941 orang, bayangkan jutaan, separuh negara Singapura nih," ujar Tito di Kantor Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI), Jakarta Pusat, Rabu (5/8/2026).

Menurut Tito, bencana tersebut tidak hanya menyebabkan jutaan warga kehilangan tempat tinggal, tetapi juga melanda wilayah yang sangat luas. Ia mencatat bencana itu terjadi di tiga provinsi dengan total 53 kabupaten dan kota terdampak.

"Jumlah provinsi tiga, jarang-jarang ada bencana tiga provinsi. Jumlah kabupaten kota terdampak 53, nggak main-main nih. Pernah enggak kita ngalami 53 kabupaten kota terdampak dalam satu bencana? Kayaknya di zaman modern kayaknya hampir enggak ada ya sejak Indonesia merdeka," katanya.

Tito membandingkan peristiwa tersebut dengan sejumlah bencana besar yang pernah ia tangani saat menjabat di Kepolisian Republik Indonesia maupun sebagai menteri. Menurutnya, meski pernah terlibat dalam penanganan gempa, longsor, dan tsunami di Palu maupun gempa di Lombok, skala bencana di Sumatera jauh lebih luas karena terjadi secara bersamaan di berbagai daerah.

"Bagi saya sendiri pribadi sebagai mantan polisi, pernah jadi Kapolres, Kapolda, Kapolri, menjadi Menteri Dalam Negeri, jujur saya dalam karier saya belum pernah saya mengalami peristiwa bencana yang seluas ini. Pernah saya Kapolri menangani waktu gempa bumi, longsor, tsunami di Palu satu kota. Pernah di Lombok saya tangani juga waktu itu bersama dengan unsur lain tapi tidak seluas ini," tuturnya.

Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 mengakibatkan kerusakan besar pada permukiman, infrastruktur jalan, serta berbagai fasilitas publik.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ngamuk, Cimahi Banjir Penjual Tramadol Padahal Wali Kotanya Pensiunan TNI

Baca Juga: Bangkit Pascabencana, Wakil Menteri ESDM Tinjau Percepatan Penyelesaian Proyek PLTA Batang Toru

Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah membentuk Satgas Percepatan Pemulihan Pascabencana Sumatera yang dipimpin oleh Tito Karnavian. Sebanyak 92.198 personel gabungan dikerahkan untuk penanganan darurat dan rehabilitasi.

Pemerintah juga telah menyusun Rencana Induk Rehabilitasi dan Rekonstruksi (RIPR) sebagai acuan pemulihan hingga 2028. Total anggaran yang disiapkan untuk program tersebut mencapai Rp100,1 triliun dan akan digunakan untuk membangun kembali rumah warga, infrastruktur dasar, serta fasilitas umum di wilayah terdampak.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri