Tak Ada Pemenang Mutlak, Ini Alasan Masing-Masing Mobil Listrik Punya Pasar Sendiri
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Perdebatan mengenai teknologi elektrifikasi mana yang paling tepat untuk Indonesia tampaknya mulai menemukan titik terang. Bukan kendaraan listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV), hybrid electric vehicle (HEV), maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) yang keluar sebagai pemenang mutlak, melainkan ketiganya justru berkembang sesuai kebutuhan konsumen.
Kesimpulan tersebut disampaikan Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, dalam paparan bertajuk The Right Fit for Indonesia pada Dialog Otomotif Nasional yang digelar Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026.
Menurut Josua, pasar Indonesia secara alami telah membentuk keseimbangan sendiri. Masing-masing teknologi elektrifikasi memiliki keunggulan sekaligus kompromi yang berbeda, sehingga sulit mengatakan satu teknologi akan menggantikan teknologi lainnya dalam waktu dekat.
"Pasar sudah menemukan right fit-nya. Pertumbuhan serentak BEV, HEV, dan PHEV bukan menunjukkan kebingungan konsumen, melainkan bentuk optimisasi sesuai kebutuhan penggunaan kendaraan," ujar Josua di Tangerang, Rabu (5/8/2026).
Ia menjelaskan, kendaraan listrik murni paling cocok digunakan oleh konsumen yang memiliki akses pengisian daya di rumah dan mayoritas beraktivitas di dalam kota. Biaya energi yang rendah membuat BEV menjadi pilihan paling ekonomis untuk penggunaan harian dengan jarak tempuh tinggi.
Di sisi lain, kendaraan hybrid masih menjadi solusi bagi masyarakat yang sering melakukan perjalanan jarak jauh atau belum memiliki akses terhadap fasilitas pengisian baterai. Karena tidak membutuhkan pengisian daya eksternal, HEV dinilai lebih praktis untuk kondisi infrastruktur Indonesia saat ini.
Sementara itu, PHEV berada di tengah-tengah. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas karena dapat digunakan layaknya mobil listrik untuk perjalanan harian, tetapi tetap memiliki mesin bensin sebagai cadangan ketika dibutuhkan untuk perjalanan lebih jauh.
Temuan tersebut juga diperkuat oleh kondisi pasar sepanjang semester pertama 2026. Penjualan kendaraan elektrifikasi terus meningkat di berbagai teknologi, menunjukkan konsumen tidak hanya terpaku pada satu pilihan.
Dalam paparannya, Josua menilai pendekatan kebijakan pemerintah seharusnya mengikuti dinamika pasar tersebut. Alih-alih memilih satu teknologi sebagai pemenang, regulasi perlu memberikan ruang agar setiap teknologi berkembang sesuai karakteristik pengguna.
"Tugas kebijakan adalah berhenti memilih pemenang," kata Josua.
Ia menambahkan, biaya kepemilikan juga menunjukkan tidak ada satu teknologi yang unggul di seluruh segmen. BEV memang menawarkan biaya operasional paling rendah pada mobil kelas entry level dan penggunaan intensif, tetapi HEV tetap kompetitif untuk mobilitas jarak jauh, sedangkan PHEV menjadi solusi transisi bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke mobil listrik murni.
Baca Juga: BYD Klaim Mobil Hybrid DM Punya Biaya Kepemilikan Lebih Rendah 30 Persen
Baca Juga: Purbaya Pastikan Insentif Hybrid Belum Dibahas, Fokus Pemerintah Masih Mobil Listrik BEV
Karena itu, menurut Josua, arah perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia kemungkinan tidak akan mengikuti pola "satu teknologi menggantikan semuanya". Sebaliknya, pasar akan bergerak menuju ekosistem yang diisi berbagai pilihan teknologi, dengan konsumen menentukan sendiri mana yang paling sesuai dengan kebutuhan, pola penggunaan, serta kesiapan infrastruktur di daerah masing-masing.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra