Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AJI Soal Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo: 32 Tahun Kemudian, Kita Kembali Berada di Satu Titik...

AJI Soal Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo: 32 Tahun Kemudian, Kita Kembali Berada di Satu Titik... Kredit Foto: BPMI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengingatkan bahwa kebebasan pers  kembali menghadapi tekanan serius menyusul adanya pidato terkait "londo ireng" dari Presiden Indonesia Prabowo Subianto.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen Indonesia Nany Afrida mengatakan lembaganya  lahir dari keberanian para jurnalis untuk menolak menjadikan pers sebagai alat kekuasaan maupun sekadar corong pemerintah. Kini, setelah lebih dari tiga dekade berlalu, Nany menilai tantangan serupa kembali muncul.

Baca Juga: Soal Tingginya Jumlah Pengangguran di Jabar, Dedi Mulyadi: Kita Menyiapkan Tenaga Terampil, Bukan...

"Dan 32 tahun kemudian, kita kembali berada pada satu titik yang menuntut keberanian itu. Karena kondisi pers Indonesia hari ini sedang dalam bahaya," tegas Nany Afrida, dikutip Rabu (13/8/2026).

Salah satu hal yang menjadi sorotannya adalah munculnya berbagai stigma terhadap jurnalis dalam beberapa hari terakhir. Ia menilai pelabelan tersebut tidak sekadar kritik terhadap produk jurnalistik, tetapi dapat menjadi upaya untuk mendelegitimasi profesi wartawan ketika menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

Di antara label yang disoroti adalah sebutan “londo ireng”, “tidak punya otak”, hingga “kawanan sirkus”. Bagi Nany, sebutan “londo ireng” menjadi persoalan tersendiri apabila digunakan untuk menuduh jurnalis sebagai pengkhianat hanya karena tidak mengikuti keinginan penguasa.

"Kalau londo ireng dimaksudkan untuk mengatakan bahwa jurnalis adalah pengkhianat karena tidak mengikuti keinginan kekuasaan, maka saya akan mengatakan: Ya, kami londo ireng," ujar Nany.

"Karena kami memang tidak bekerja berdasarkan apa yang diinginkan penguasa. Kami bekerja berdasarkan fakta, berdasarkan kepentingan publik, berdasarkan kode etik. Kami bekerja berdasarkan hak masyarakat untuk memperoleh informasi," lanjutnya.

Nany juga menyoroti anggapan bahwa pertanyaan kritis yang diajukan wartawan kepada pejabat atau penguasa merupakan bentuk pembangkangan.

Menurut dia, pertanyaan merupakan bagian mendasar dari kerja jurnalistik. Wartawan memiliki tanggung jawab untuk menggali informasi, menguji pernyataan, serta meminta penjelasan dari pihak yang memiliki kewenangan.

"Kalau mengajukan pertanyaan kritis disebut pengkhianatan, maka mungkin persoalannya bukan pada jurnalis yang bertanya. Persoalannya adalah kekuasaan yang tidak siap mendengar pertanyaan," tegasnya.

Nany kemudian menanggapi label lain yang diarahkan kepada wartawan, yakni tudingan bahwa jurnalis “tidak punya otak”. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ia menjadikan label tersebut sebagai refleksi mengenai pilihan para jurnalis untuk tetap menjalankan profesinya di tengah berbagai risiko.

"Kalau kami disebut tidak punya otak, saya juga ingin mengatakan: Ya, mungkin memang kami tidak punya otak. Karena setelah melihat tekanan, ancaman, kekerasan dan ketidakpastian ekonomi, kami masih memilih jadi jurnalis," ucapnya.

Menurut Nany, persoalan kebebasan pers saat ini memiliki dimensi yang lebih luas. Ancaman terhadap media bukan hanya berupa tekanan langsung kepada wartawan, tetapi juga muncul dari kondisi ekonomi industri media yang semakin berat.

Perubahan teknologi turut mengubah cara kerja media, pola konsumsi informasi, dan model bisnis perusahaan pers. Namun, di luar persoalan ekonomi dan transformasi teknologi tersebut, Nany menilai ruang kebebasan bersuara juga mengalami tekanan yang semakin kuat.

AJI menilai independensi menjadi semakin penting. Jurnalis dituntut tetap berpijak pada fakta, kode etik jurnalistik, serta kepentingan publik meskipun menghadapi tekanan atau stigma.

"Jurnalis tidak akan mundur hanya karena dicap. Tugas kami tetap: mencari fakta dan menyampaikannya kepada publik," urai Nany.

Sebelumnya, Prabowo mengejutkan publik dengan menyebut mentalitas londo ireng masih ada hingga kini. Ia menilai sebagian orang lebih senang mengabdi kepada kepentingan bangsa asing daripada bangsa sendiri.

"Kita tahu ada orang-orang yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan," kata Prabowo.

Ia juga menyindir kalangan wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat atau LSM.

Baca Juga: Megawati Curhat, Prabowo Tertawakan Usulannya Soal MBG

"Harus kita tanya, yang gaji lu siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa? Cari pekerjaan susah, kita tahu kan?" katanya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar