Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Vale Siapkan IGP Morowali Jadi Kawasan Green Industry

Vale Siapkan IGP Morowali Jadi Kawasan Green Industry Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menyiapkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali-Bahodopi di Sulawesi Tengah menjadi kawasan green industry. Proyek pengembangan nikel terintegrasi tersebut nantinya dilengkapi fasilitas daur ulang (recycling) yang diharapkan mendukung terbentuknya ekosistem industri hijau.

Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan IGP Morowali-Bahodopi akan mengintegrasikan kegiatan pertambangan dengan pengolahan bijih nikel hingga pengembangan ekosistem industri di kawasan tersebut.

"Nah, jadi Vale dengan segala apa... best mining practice-nya menyuplai bahan baku dari tambang blok Bahodopi ke situ, Limonit, dan berharap itu akan menjadi sebuah green industry," kata Budi di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Bijih nikel tersebut akan berasal dari tambang Bahodopi-Morowali yang telah beroperasi sejak kuartal III 2025. Saat ini, produksi dari tambang tersebut telah mencapai sekitar 2,2 juta ton.

Dalam kapasitas penuh, tambang tersebut diproyeksikan menghasilkan hingga 5,5 juta ton saprolit dan 10,4 juta ton limonit per tahun.

Bijih limonit dari tambang tersebut selanjutnya akan menjadi bahan baku pabrik pengolahan berbasis high pressure acid leach (HPAL) untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP).

Untuk mengembangkan fasilitas pengolahan tersebut, Vale bersama GEM dan Ecopro membentuk perusahaan patungan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI).

Pabrik HPAL BNSI dibangun dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar dan ditargetkan menghasilkan sekitar 66.000 ton nikel dalam bentuk MHP. Untuk mencapai kapasitas tersebut, fasilitas pengolahan membutuhkan sekitar 10,4 juta ton bijih limonit dan 1 juta ton saprolit.

Pengembangan kawasan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Vale dalam Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035.

Baca Juga: Vale Pastikan Konstruksi Smelter Pomalaa Rampung 100%

Baca Juga: Tanggapi Wacana Relaksasi Kuota RKAB, Ini Kata Bos Vale Indonesia

Budi mengatakan konsep green industry di IGP Morowali-Bahodopi tidak hanya berasal dari aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel. Kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas recycling yang dikembangkan oleh tenant-tenant lain sehingga dapat menjadi industri jangkar (anchor industry) bagi ekosistem di kawasan tersebut.

"Karena kenapa green industry? Juga itu akan dilengkapi dengan fasilitas recycling oleh... oleh tenant-tenant lain, sehingga ini menjadi anchor industri," jelas Budi.

Sementara itu, sebelum pabrik HPAL beroperasi, Vale masih menjual bijih nikel di pasar domestik. Penjualan tersebut menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap pengembangan hilirisasi nikel nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra