Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IKM Fesyen dan Kriya Didorong Naik Kelas Lewat Pendampingan Bisnis

IKM Fesyen dan Kriya Didorong Naik Kelas Lewat Pendampingan Bisnis Kredit Foto: Istimewa

Dari Kelas Bisnis hingga Akses Investor

CBI 2026 dirancang dengan proses yang cukup panjang. Sebanyak 20 peserta terpilih akan terlebih dahulu mengikuti kelas daring selama 14 hari. Setelah melalui proses kurasi, delapan peserta akan melanjutkan program melalui kelas tatap muka di Bali.

Materi yang diberikan tidak hanya berkutat pada produk. Peserta juga akan belajar mengenai manajemen strategi, operasional, hukum bisnis hingga keuangan.

Pada tahap tatap muka, peserta mendapat pendampingan langsung dari mentor. Perkembangan bisnis, capaian kontrak, hingga berbagai kendala yang dihadapi akan dievaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

“Mentor akan mengevaluasi capaian kontrak, kendala peserta, hingga bersama-sama menyusun langkah tindak lanjut untuk mencapai tujuan bisnis utama pada akhir tahun pelatihan,” ujar Reni.

Pendampingan juga tidak berhenti setelah program selesai. Lulusan CBI akan menjadi mitra binaan Kemenperin dan memiliki kesempatan memperluas jaringan melalui berbagai kegiatan serta pameran di tingkat nasional maupun internasional.

Mereka juga dapat mengikuti business pitching dengan mitra ritel CBI, pemodal atau angel investor, serta pihak yang menyediakan akses pendanaan. Skema ini diharapkan bisa mempertemukan pelaku IKM dengan pasar sekaligus membuka peluang pembiayaan dan kerja sama bisnis.

Selain CBI, BPIFK rutin menggelar Creative Talk untuk memperkenalkan berbagai strategi pengembangan usaha kepada pelaku fesyen dan kriya. Kegiatan ini digelar secara daring maupun tatap muka dan menyasar pelaku usaha dari berbagai skala.

Salah satu pembahasannya adalah bagaimana sebuah jenama menemukan nilai unik yang membuat produknya lebih mudah dilirik pasar. Topik tersebut dibahas dalam Creative Talk bertajuk “Membangun Brand dan Menentukan Nilai Unik agar Bisnis Dilirik Pasar” pada 30 Juli 2026.

Dalam kegiatan itu, pendiri jenama TriCycle sekaligus alumni CBI 2018, Annisa Fauziah, membagikan pengalamannya membangun bisnis kepada para wirausaha muda.

Menurut Annisa, memahami konsumen merupakan salah satu fondasi penting dalam mengembangkan usaha. Pelaku bisnis perlu mengetahui kebutuhan dan persoalan yang dihadapi pelanggan sebelum menentukan produk atau layanan yang ditawarkan.

Peserta kemudian diperkenalkan dengan Value Proposition Canvas, alat yang dapat digunakan untuk memetakan kebutuhan pelanggan sekaligus merumuskan nilai yang ingin ditawarkan sebuah bisnis.

Dalam sesi workshop, peserta bahkan diminta langsung memetakan bisnis masing-masing. Mereka mengidentifikasi target pelanggan, kebutuhan dan persoalan konsumen, kemudian menyusun solusi serta nilai tambah yang dapat diberikan produknya.

Hasilnya kemudian dipresentasikan untuk mendapatkan masukan langsung dari narasumber.

Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, mengatakan kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting bagi pelaku usaha fesyen dan kriya karena selera konsumen dan kondisi pasar terus berubah.

“BPIFK rutin menggelar Creative Talk, baik melalui daring maupun tatap muka. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi pelaku IKM yang sudah berkembang, tetapi juga menyasar pelaku usaha fesyen dan kriya yang ingin naik kelas serta berkomitmen mengikuti tahapan membangun bisnis yang berkelanjutan,” ujar Dickie.

Program CBI 2026 sendiri dibuka pada Juli 2026 dengan periode pendaftaran 20 Juli hingga 17 Agustus 2026. Kemenperin berharap semakin banyak pelaku usaha kreatif yang tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga membangun bisnis yang kuat, memperluas pasar, dan terhubung dengan industri yang lebih besar.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra