Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

IKM Fesyen dan Kriya Didorong Naik Kelas Lewat Pendampingan Bisnis

IKM Fesyen dan Kriya Didorong Naik Kelas Lewat Pendampingan Bisnis Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri fesyen dan kriya menjadi salah satu sektor yang terus didorong untuk berkembang karena potensinya dinilai cukup besar. Namun, bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM), menghasilkan produk yang bagus saja belum cukup. Mereka juga perlu memahami pasar, membangun identitas merek, hingga menyusun strategi bisnis agar mampu bertahan dan berkembang.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencoba menjawab tantangan tersebut melalui program Creative Business Incubator (CBI). Program yang digagas Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan bisnis secara berkelanjutan.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan persaingan di industri fesyen dan kriya semakin ketat. Karena itu, pelaku usaha dituntut tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menentukan arah bisnis dan memiliki karakter produk yang kuat.

“Kami terus memantau dan memastikan agar para wirausaha muda dan IKM sektor fesyen dan kriya bisa lebih berani, produktif, dan naik kelas dengan memiliki strategi bisnis yang tepat, terukur, dan terus dievaluasi,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Menurut dia, potensi sektor tersebut terlihat dari pertumbuhannya yang terus meningkat. Industri fesyen dan kriya tercatat tumbuh dari 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.

Kinerja ekspornya juga cukup besar. Sepanjang Januari-April 2026, ekspor industri kriya mencapai USD228 juta. Pada periode yang sama, ekspor pakaian jadi mencapai USD2,78 miliar, sedangkan ekspor industri tekstil mencapai USD1,04 miliar.

Angka tersebut menunjukkan pasar yang masih terbuka lebar. Di sisi lain, semakin besarnya pasar juga membuat persaingan antarjenama semakin sengit.

Agus menilai pelaku usaha perlu memiliki pembeda yang jelas agar produknya tidak mudah tenggelam di tengah banyaknya pilihan konsumen.

“Tantangannya adalah bagaimana desainer maupun pemilik usaha dan jenama mampu membangun identitas yang kuat, memahami konsumen, serta menciptakan nilai unik yang menjadi keunggulan kompetitif di tengah persaingan pasar,” ujarnya.

Di sinilah Kemenperin melihat pendampingan bisnis menjadi penting. Melalui CBI, pelaku IKM tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan produksi, tetapi juga membangun bisnis yang lebih terstruktur dan membuka akses menuju pasar yang lebih luas.

Program tersebut telah berjalan sejak 2018. Sejumlah alumninya disebut berhasil meningkatkan kapasitas produksi dan omzet, bahkan naik kelas dari usaha mikro menjadi usaha kecil atau dari usaha kecil menjadi usaha menengah.

Ada pula alumni yang berhasil masuk ke rantai pasok industri yang lebih besar. Salah satunya Rappo, alumni CBI 2024 asal Makassar, yang mengembangkan limbah plastik menjadi produk kreatif dan kemudian berkolaborasi dengan Garuda Indonesia serta Borobudur Marathon.

Baca Juga: Molinas Diluncurkan, Kemenperin Dorong Indonesia Tak Cuma Jadi Pasar

Baca Juga: Kemenperin Soal Pajak Kendaraan Listrik DKI: Jangan Memberatkan Industri

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendampingan dapat membuka peluang yang lebih besar bagi IKM, baik dari sisi kapasitas usaha, pasar maupun kemitraan.

“Keberhasilan para alumni tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membuka peluang yang jauh lebih besar bagi IKM, baik dalam peningkatan kapasitas usaha, pengembangan pasar maupun membangun kemitraan dengan industri yang lebih besar,” kata Reni.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dwi Aditya Putra