Dulu Bertani, Kini Jadi Supervisor: Perjalanan Yopanda Mengubah Nasib Lewat Industri
Kredit Foto: Istimewa
Bagi Yopanda, kemerdekaan bukan hanya soal bebas dari penjajahan, melainkan juga bebas dari ketidakpastian: dari penghasilan yang naik turun mengikuti musim, dari keterbatasan akses pendidikan, dan dari peluang yang dulu terasa jauh dari jangkauan.
Perjalanannya dari petani menjadi bagian dari industri modern adalah cerminan kecil dari semangat besar Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia: kesempatan yang semakin terbuka bagi siapa saja untuk tumbuh dan mandiri.
Semangat itu pula yang tercermin dari komposisi karyawan Pabrik AQUA Tanggamus, di mana sekitar 90% di antaranya berasal dari masyarakat sekitar (data per Agustus 2026).
Sejak mulai beroperasi pada April 2016, Pabrik AQUA Tanggamus berkomitmen untuk memprioritaskan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tenaga kerjanya. Alih-alih merekrut dari luar daerah, perusahaan memilih untuk membekali warga sekitar, yang sebelumnya banyak menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan pekerjaan informal, dengan pelatihan dan keterampilan yang dibutuhkan agar dapat berkarya di lingkungan industri.
Pendekatan ini membuka akses yang lebih setara terhadap keterampilan, pendidikan, serta kesempatan untuk berkembang bagi masyarakat sekitar pabrik.
Komposisi tersebut tidak tercipta secara instan. Pada tahun pertama operasional, perusahaan membuka berbagai pelatihan bagi warga sekitar yang sebagian besar sebelumnya berprofesi sebagai petani dan pekebun. Mereka diperkenalkan dengan dunia manufaktur, mulai dari dasar-dasar keselamatan kerja hingga keterampilan teknis di lini produksi.
“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” ujar Teguh Santoso, Kepala Pabrik AQUA Tanggamus.
Kesempatan tersebut diberikan tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun usia. Masyarakat yang telah berusia lebih matang tetap didampingi melalui berbagai pelatihan keterampilan teknis, seperti pengelasan (welding) dan kompetensi operasional lainnya — termasuk mereka yang sebelumnya belum pernah bekerja di sektor manufaktur.
Angkatan pertama pekerja ini menjadi bukti nyata bagaimana akses terhadap pelatihan dapat membuka kesempatan baru, salah satunya bagi Yopanda (38).
Yopanda: Merdeka dari Ketidakpastian Musim
Sebelum mengenal dunia industri, keseharian Yopanda banyak dihabiskan dengan bertani dan bekerja serabutan — hidup yang penghasilannya sangat bergantung pada cuaca dan musim panen, jauh dari kata pasti. Ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung, ia turut bekerja dalam proyek konstruksi dan bergabung bersama tim engineering.
Dari sanalah, untuk pertama kalinya, ia mengenal lebih dekat dunia kerja industri yang penuh keteraturan — sesuatu yang jauh berbeda dari kehidupannya sebagai petani. Kini, Yopanda telah bekerja di Pabrik AQUA Tanggamus selama satu dekade sebagai supervisor.
Saat bekerja bersama tim engineering, Yopanda melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk bekerja. Ia yang saat itu belum memiliki ijazah setara SMA mulai memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mempelajari keterampilan baru.
Kesempatan datang ketika ia mendengar adanya program Paket C yang ditawarkan oleh perusahaan bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut.
Di tengah aktivitas bekerja, ia kembali belajar dua kali dalam seminggu hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C. Selain mengejar pendidikan formal, kesempatan mempelajari komputer menjadi salah satu motivasi terbesarnya.
“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” cerita Yopanda.
Keinginan itu kini telah terwujud. Yopanda tidak hanya memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga terbiasa mengoperasikan komputer dalam pekerjaannya sehari-hari di lingkungan pabrik.
Memasuki dunia industri menjadi perubahan besar bagi Yopanda yang sebelumnya terbiasa bekerja sebagai petani. Jika dahulu ia dapat menentukan sendiri kapan mulai dan selesai bekerja, lingkungan industri memperkenalkannya pada disiplin waktu, prosedur kerja, serta budaya keselamatan.
Menurutnya, perubahan terbesar justru terjadi pada pola pikir. Ia belajar untuk lebih disiplin, memperhatikan keselamatan orang lain, serta memahami bahwa tanggung jawab merupakan bagian dari pekerjaan bersama. Kesadaran itu perlahan terbawa ke kehidupan sehari-hari, termasuk ketika ia kembali berkegiatan di kebun.
“Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ujarnya.
Dampak lain yang paling nyata adalah kemerdekaan dari sisi ekonomi. Jika dahulu sebagai petani penghasilannya sangat bergantung pada musim, kini ia memiliki pendapatan yang lebih stabil dan bisa direncanakan. Baginya, itulah bentuk kemerdekaan yang paling ia rasakan: tidak lagi cemas menghadapi musim paceklik.
Menurutnya, aktivitas pabrik juga turut membuka peluang ekonomi bagi masyarakat yang tidak bekerja langsung di dalamnya, mulai dari kesempatan bekerja melalui mitra perusahaan hingga tumbuhnya usaha kecil seperti warung makan di sekitar kawasan.
Kini, dengan ijazah Paket C, keterampilan teknis, dan penghasilan yang lebih stabil, Yopanda menjalani hidup yang jauh lebih baik dari titik awalnya sebagai petani — merdeka dari ketidakpastian musim, merdeka dari keterbatasan pendidikan, dan merdeka untuk terus berkembang. Perjalanannya menggambarkan bagaimana keberadaan industri dapat membuka lebih dari sekadar kesempatan kerja: sebuah jalan menuju kemandirian bagi masyarakat sekitar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: