Rencana Israel Gulingkan Pemerintah Iran Gagal, Erdogan Disebut Jadi Penghalang
Kredit Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko
Selain penolakan Erdogan, rencana tersebut juga menghadapi keraguan dari sejumlah pejabat Amerika Serikat. Sebagian pejabat menilai pengerahan pasukan Kurdi untuk melakukan invasi darat ke Iran sulit direalisasikan.
Trump bahkan disebut pernah menilai skenario perubahan rezim yang disampaikan Netanyahu tidak masuk akal. Meski demikian, Trump dilaporkan masih menjajaki kemungkinan memanfaatkan kelompok-kelompok lokal untuk melemahkan Teheran.
Pada 1 Maret, Trump disebut telah berbicara dengan sejumlah pemimpin Kurdi. Komunikasi dengan beberapa tokoh lokal juga disebut terus berlangsung untuk melihat peluang memanfaatkan melemahnya posisi Iran.
Israel kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di wilayah barat Iran. Target serangan disebut mencakup fasilitas militer, sistem rudal, kantor polisi, dan lokasi yang berkaitan dengan Basij.
Langkah tersebut disebut memunculkan dugaan bahwa Israel tengah membuka ruang bagi kemungkinan operasi kelompok Kurdi. Namun, rencana pengerahan pasukan tersebut akhirnya tidak pernah terealisasi.
Pada 18 Maret, koalisi enam faksi Kurdi Iran dilaporkan telah bersiap untuk bergerak. Namun, operasi tersebut membutuhkan persetujuan akhir Trump yang tidak pernah diberikan.
Kelompok-kelompok Kurdi juga mulai mempertanyakan peluang keberhasilan operasi tersebut. Mereka disebut meminta jaminan politik selain dukungan militer.
Di tengah situasi itu, informasi mengenai rencana rahasia tersebut mulai muncul di media Amerika Serikat. Gedung Putih kemudian membantah bahwa Washington mempersenjatai kelompok Kurdi untuk menjalankan operasi tersebut.
Erdogan disebut terus melakukan lobi kepada Washington agar rencana itu dibatalkan. Sejumlah negara Teluk juga memperingatkan bahwa pemecahan Iran berdasarkan garis etnis dapat memicu ketidakstabilan baru di Timur Tengah.
Kegagalan operasi tersebut kemudian disebut menimbulkan ketidakpuasan di Israel. Direktur Mossad Roman Gofman bahkan dilaporkan mencopot dua pejabat senior yang terlibat dalam penyusunan skenario perubahan rezim.
Baca Juga: Bukan Karena Ekonomi, Ini Kata Megawati Soal AS Masih Belum Mampu Kalahkan Iran
Isu pergantian rezim Iran kembali dibahas dalam pertemuan Netanyahu dan Trump pada 28 Juli. Namun, Netanyahu disebut kembali gagal mendapatkan dukungan Trump untuk menjalankan operasi tersebut.
Trump akhirnya memilih mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran. Pilihan itu ditempuh alih-alih memberikan dukungan terhadap operasi militer untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: