Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

14 Menteri Mundur Runtuhkan Soeharto, Sejarah Ini Jadi 'Warning' untuk Kabinet Prabowo?

14 Menteri Mundur Runtuhkan Soeharto, Sejarah Ini Jadi 'Warning' untuk Kabinet Prabowo? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat Kebijakan Publik, Syukur Mandar, kembali mengungkit peristiwa runtuhnya kekuasan Presiden RI ke-2 Soeharto yang memimpin selama 32 tahun.

Selama memegang tambuk kekuasaan, Soeharto tidak membiarkan celah pemberontakan dari luar dengan mengendalikan secara ketat tentara, polisi, hingga partai politik.

"Pak Harto 32 tahun dia mengkonstruksi kekuasaan orde baru begitu rapinya. Dan dia menjaga setiap lubang-lubang pemberontakan itu. Lubang-lubang kritis dijagain betul itu ditaruh tentara di situ, taruh polisi di situ, ditaruh semua. Partai juga diikat betul. Semua instrumen kekuasaan dirapikan. Betul," ujarnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Kamis (20/8).

Namun, ironisnya, keruntuhan Soeharto justru datang dari dalam istana. Syukur menilai pemberontakan itu menggelembung perlahan hingga akhirnya meledak.

"Andai 16 apa berapa belas menteri itu tidak mundur mungkin Soeharto masih bertahan. Iya ada tumpah darah," tegasnya.

Syukur kemudian mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak hanya dikelilingi loyalis, melainkan juga orang-orang yang jenius dan mampu mengoperasikan keinginan presiden dengan baik. Menurutnya, titik lemah Prabowo ada pada lingkaran dalam kabinet.

Baca Juga: Guru Honorer Sentil Gerindra: Terima Kasih ke Prabowo? Wacana Belum Jelas!

"Justru dari dalam kabinet menurut saya sumbangsih terbesar yang membuat Presiden Prabowo ini gagal adalah sumbangsih dalam internal kabinet," ungkap Syukur.

Sebagai catatan, pada 20 Mei 1998, sebanyak 14 menteri di kabinet Soeharto menyatakan mundur dan menolak masuk ke Kabinet Reformasi. Langkah itu mengejutkan Soeharto, karena selama tiga dekade pemerintahannya ia tidak pernah menghadapi penolakan terbuka dari para pembantunya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya