Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BI Beberkan Strategi Jaga Rupiah, dari Likuiditas hingga Daya Tarik Aset

BI Beberkan Strategi Jaga Rupiah, dari Likuiditas hingga Daya Tarik Aset Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, BI Erwin G Hutapea, memaparkan sejumlah langkah dalam operasi moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, mulai dari pengelolaan likuiditas di sistem keuangan hingga mempertahankan daya tarik aset rupiah bagi investor global.

“Kebijakan operasi moneter BI diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memastikan kecukupan likuiditas, serta menjaga stabilitas suku bunga,” ujarnya Erwin  dalam taklimat media bertemakan Perkembangan Respons Kebijakan Operasi Moneter Terkini, Rabu (30/9/2026).

Dari sisi likuiditas, Erwin menyebut operasi moneter ekspansif BI telah mencapai lebih dari Rp800 triliun. Sementara itu, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer dan sekunder telah mencapai lebih dari Rp250 triliun atau mendekati Rp300 triliun.

Erwin menjelaskan, BI juga melakukan kalibrasi terhadap instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Imbal hasil SRBI yang sebelumnya berada di sekitar 7,74% telah diturunkan menjadi 6,76%, sedangkan volumenya berada di sekitar Rp1.028 triliun.

Langkah berikutnya menyasar daya tarik aset rupiah. BI memperkuat insentif hedging bagi investor global dengan skema yang semakin besar untuk tenor lebih panjang. Untuk transaksi swap, insentif ditetapkan 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk 12 bulan.

Sementara untuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), insentif mencapai 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan. Menurut Erwin, skema tersebut ditujukan untuk mendorong investor global yang masuk ke pasar domestik melakukan transaksi spot sekaligus melakukan hedging menggunakan DNDF.

“Jadi memang yang lebih panjang itu lebih tinggi. Itu untuk mendorong global investor ketika dia masuk ke domestik, kemudian dia melakukan sell spot, tetapi kemudian dia melakukan hedging-nya menggunakan DNDF,” kata Erwin di kantor Bank Indonesia.

Selain hedging, BI menggunakan Local Currency Transaction (LCT) untuk mendorong diversifikasi mata uang dalam transaksi lintas negara. Kebijakan ini menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam kebutuhan transaksi internasional.

Lebih lanjut, BI juga menyiapkan skema Fastra untuk mempermudah investor global masuk ke pasar domestik. Skema tersebut melibatkan investor global yang terdaftar, bank lokal, serta bank offshore sebagai mitra transaksi, dengan tujuan mengurangi beban dokumentasi dan administrasi.

Dari sisi stabilitas nilai tukar, BI menggunakan instrumen pasar valuta asing seperti transaksi spot dan NDF. Erwin menjelaskan NDF digunakan untuk kebutuhan valuta asing yang penyelesaiannya dilakukan pada waktu mendatang.

“BI juga melakukan operasi di pasar NDF untuk mengantisipasi transmisi pergerakan pasar global ke pasar domestik. Contoh, ketika pasar Indonesia sudah tutup, perdagangan di Eropa dan Amerika Serikat masih berlangsung. Pergerakan NDF selama periode tersebut dapat menjadi referensi ketika pasar domestik kembali dibuka,” ucap Erwin. 

Baca Juga: Rupiah Digital Kantongi Fatwa Halal, Masuk Tahap Uji Transaksi Lintas Negara

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Rp17.925 per dolar AS di Awal Perdagangan

Sementara dari sisi suku bunga, BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada September. Sebelumnya, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei dari 4,75% menjadi 5,75% dan kemudian menahannya karena menilai langkah front-loading tersebut sudah memadai.

Adapun hingga 29 September 2026, rupiah tercatat melemah 7,74% secara year to date (ytd) dibandingkan posisi akhir 2025. Erwin menyebut volatilitas rupiah berada di level 7,30%, lebih rendah dibandingkan Korea Selatan 15,6%, Filipina 8,7%, dan Malaysia 8,59%.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aryo Hadi Wibowo
Editor: Dwi Aditya Putra