AS Murka Israel Bombardir Suriah, Trump Kini Dekati Pemerintahan Al Sharaa
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Amerika Serikat mengecam serangan Israel yang menyasar sejumlah fasilitas militer Suriah pada Selasa (18/8/2026) dini hari. Washington menilai aksi tersebut justru dapat memperburuk stabilitas kawasan.
Utusan AS untuk Suriah sekaligus Duta Besar AS untuk Turki Tom Barrack mengonfirmasi serangan tersebut. Ia menilai Israel tidak perlu melakukan serangan terhadap wilayah Suriah.
"Serangan tersebut merupakan eskalasi yang tidak perlu dan tidak membantu menciptakan stabilitas kawasan," kata Barrack di X.
Media pemerintah Suriah Ekhbariya melaporkan serangan Israel menyasar landasan pacu dan fasilitas penyimpanan di pangkalan Abu Al Duhur. Tidak ada laporan korban jiwa akibat serangan tersebut.
Sikap keras AS terhadap Israel berkaitan dengan upaya Washington membangun hubungan dengan pemerintahan baru Suriah. Pemerintahan tersebut dipimpin Ahmed Al Sharaa yang menggulingkan rezim Bashar Al Assad pada Desember 2024.
Barrack mengatakan AS bersedia menjadi mediator antara Suriah dan Israel. Washington ingin mencegah ketegangan kedua negara berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
"Pemerintahan Al Sharaa tidak mengambil sikap agresif atau mempertahankan pasukan proksi bahkan dia menunjukkan berulang kali untuk meredam konflik dengan Israel," kata Barrack.
Barrack mengatakan Washington akan terus mendorong jalur diplomasi antara kedua negara. AS menilai pendekatan diplomatik lebih diperlukan dibandingkan tindakan militer.
"Amerika Serikat di masa lalu, dan akan terus di masa mendatang, menyelenggarakan diskusi untuk mendorong ritme diplomatik daripada aksi militer (frustrasi kinetik) bagi kedua negara."
Serangan Israel juga menjadi perhatian karena lokasi pangkalan Abu Al Duhur hanya berjarak sekitar 70 kilometer dari Turki. Ankara diketahui menjadi salah satu sekutu baru pemerintahan Suriah dan turut membantu melatih tentara nasional negara tersebut.
Barrack mengatakan serangan terhadap pangkalan Suriah berkaitan dengan persepsi mengenai kemungkinan kehadiran pasukan Turki di lokasi tersebut. Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan perlunya mekanisme untuk mencegah kesalahpahaman antara Israel, Suriah dan Turki.
"Ini menggarisbawahi perlu mekanisme mengakhiri konflik yang melibatkan Israel, Suriah, dan Turki. Ini adalah sesuatu yang sedang kami upayakan untuk dibentuk guna mencegah kesalahpahaman di masa mendatang," kata dia.
"Prioritas sekarang adalah menurunkan ketegangan dan memberikan ruang untuk pendekatan yang lebih terukur," imbuh Barrack, dikutip Reuters.
Turki juga mengecam keras serangan Israel terhadap Suriah. Pemerintah Ankara meminta masyarakat internasional mengambil langkah lebih tegas untuk menghentikan serangan Israel.
"Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil sikap yang lebih tegas guna mengakhiri agresi Israel yang semakin meningkat terhadap Suriah," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki, dikutip Reuters.
Hubungan Suriah dengan AS mengalami perubahan setelah Ahmed Al Sharaa mengambil alih pemerintahan. Kondisi tersebut berbeda dengan era Bashar Al Assad yang membawa Damaskus lebih dekat dengan Rusia.
Pemerintahan Trump kemudian mulai membuka hubungan dengan pemerintahan baru Suriah. Langkah tersebut terlihat dari sejumlah pertemuan dan kebijakan Washington terhadap Damaskus.
Pada Mei 2025, Trump bertemu Al Sharaa di Riyadh, Arab Saudi. Dalam pertemuan tersebut, Trump mengumumkan rencana pencabutan sanksi AS terhadap Suriah dengan sejumlah persyaratan.
Syarat tersebut mencakup normalisasi hubungan Suriah dengan negara-negara tetangga termasuk Israel. Suriah juga diminta memberikan jaminan keamanan bagi kelompok minoritas.
Pada November 2025, Trump kembali bertemu Al Sharaa. Kali ini pertemuan berlangsung di Gedung Putih dan menjadi kunjungan pertama seorang pemimpin Suriah ke Washington.
Baca Juga: Senator AS Desak Menhan Amerika Pete Hegseth Dipecat, Soroti Krisis di USS Abraham Lincoln
Pertemuan tersebut berlangsung selama dua jam secara tertutup. Hasilnya mencakup penangguhan sanksi ekonomi selama enam bulan dan kerja sama dalam koalisi melawan ISIS.
Washington juga berupaya mengurangi pengaruh Rusia dan Iran di Suriah. AS kemudian mengizinkan Suriah membuka kantor kedutaan besar di Washington DC serta menghapus Al Sharaa dari daftar teroris global.
Hubungan kedua negara semakin dekat setelah AS mulai menarik pasukannya dari Suriah pada Februari 2026. Pada April 2026, pangkalan udara Qasrak disebut telah kosong dan diserahkan kepada militer Suriah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: